Banyak Cara Merayakan Lebaran Ketupat, Inilah Tradisi Unik yang Ada di Berbagai Daerah di Indonesia

Seperti yang diketahui, seminggu setelah lebaran masyarakat Jawa umumnya merayakan Lebaran Ketupat.

Banyak Cara Merayakan Lebaran Ketupat, Inilah Tradisi Unik yang Ada di Berbagai Daerah di Indonesia
Surya Malang/ Tribun
tradisi lebaran ketupat 

Warga Kelurahan Kelutan, Trenggalak memiliki cara unik merayakan Lebaran Ketupat. Pada hari ketujuh bulan Syawal, masyarakat akan mengelar pawai gebyar Lebaran Ketupat.

Acara ini sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun dan menjadi daya tarik bagi warga Trenggalek serta pengunjung dari luar daerah, seperti Ponorogo dan Tulungagung.

Berbagai kegiatan digelar dalam pawai ini, seperti parade busana, kesenian tari daerah, serta penampilan marching band dari warga Kelutan.

Salah satu yang paling banyak disaksikan adalah pawai taaruf.

Pengunjung juga dapat menikmati ketupat sayur secara gratis yang disediakan oleh warga sekitar.

Hampir setiap rumah menyediakan hidangan ketupat gratis bagi warga yang menyaksikan pawai maupun yang hanya lewat di jalan itu.

Lebaran Ketupat juga dirayakan di beberapa titik wilayah kabupaten Trenggalek, yaitu di Kecamatan Durenan, Pogalan, serta Gandusari.

5. Madura

Di Madura, tradisi Lebaran Ketupat disebut dengan Terater.

Tradisi Terater dilakukan setiap 7 Syawal setelah umat Muslim selesai melaksanakan ibadah puasa sunah selama enam hari di bulan Syawal.

Masyarakat Madura biasanya menyantap ketupat dengan opor atau ayam goreng.

Akan tetapi, di Madura hidangan Lebaran Ketupat tidak langsung disantap, melainkan terlebih dulu diserahkan kepada imam masjid atau dibawa ke mushala setempat.

Setelah makanan terkumpul, warga akan berkumpul dan menggelar doa bersama.

Kegiatan Terater ini masih dilestarikan hingga saat ini karena dianggap mampu mempererat tali persaudaraan antar muslim setelah selesai berpuasa.

Tradisi ini sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan melanjutkan puasa selama enam hari pada awal Syawal.

6. Lombok

Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Timur menyebut tradisi ini dengan nama Lebaran Topat, yang dimeriahkan dengan tradisi nyangkar.

Nyangkar merupakan tradisi nenek moyang orang Sasak saat merayakan Lebaran Topat.

Masyarakat Lombok akan melakukan arak-arakan cidomo hias yang mengangkut dulang berisi ketupat menuju pusat perayaan di makam Loang Baloq.

Sesampainya di makam, masyarakat akan melakukan zikir dan doa bersama.

Perayaan ini kemudian dilanjutkan dengan potong ketupat dan makan bersama di Taman Loang Baloq.

7. Gorontalo

Hampir semua warga Gorontalo merayakan tradisi Lebaran Ketupat.

Perayaan dilakukan dengan menyelenggarakan open house di rumah-rumah, khususnya di Kampung Jawa, seperti Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Gorontalo.

Setiap rumah sepanjang Jalan Yosonegoro akan menyelenggarakan open house.

Menu utama yang disediakan adalah ketupat dan opor ayam, siapa saja boleh menikmati hidangan tersebut.

Sebelum dirayakan, sebagian warga akan menjalankan ibadah puasa sunah di bulan Syawal selama enam hari.

Tradisi Lebaran Ketupat ini awalnya hanya dilakukan oleh orang Jaton (sebutan untuk etnis Jawa-Tondano).

Namun, warga Gorontalo sekarang sudah melebur dan ikut merayakannya.

Sejarah Bentuk Persegi dari Ketupat

Dilansir dari kompas.com dalam artikel berjudul 'Makna di Balik Ketupat yang Berbentuk Persegi Empat', ternyata ada sejarah unik di balik Lebaran Ketupat.

Hal itu diungkapkan oleh sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung, Fadly Rahman.

Ternyata bentuk persegi dari ketupat ada kaitannya dnegan bahasa Austronesia.

"Kupat kalau dalam bahasa Austronesia turunan dari kata 'epat' yang artinya empat. Kalau kita melihat ketupat, bentuknya persegi dan memiliki empat sudut," kata Fadly.

Rupanya bentuk persegi empat memang memiliki makna lain, diungkapkan Fadly, bila mengacu pada pra-Islam, bentuk empat sisi atau sudut ketupat berhubungan dengan empat penjuru mata angin.

Pada masa Islam, Sunan Kalijaga memberikan sentuhan makna lain. Empat sisi ketupat direpresentasikan dengan Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan, yang berhubungan dengan sikap manusia.

Lebaran artinya pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain. Sedangkan Luberan berarti melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan.

Leburan berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun. Adapun, Laburan yakni menyucikan diri, putih kembali layaknya bayi.

Penulis: Raras Cahyaning Hapsari
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved