Kabar Banyuwangi

PDIP Banyuwangi Gelar Tahlil Kebangsaan Doakan Bung Karno dan KH Hasyim Asy'ari

Halal bihalal merupakan tradisi baik untuk menjaga tali silaturahim di antara kader partai dengan masyarakat.

PDIP Banyuwangi Gelar Tahlil Kebangsaan Doakan Bung Karno dan KH Hasyim Asy'ari
suryamalang.com/Haorrahman
Tahlil dan halan bihalal digelar DPC PDIP Kabupaten Banyuwangi. 

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Jajaran PDI Perjuangan Banyuwangi menggelar halal bihalal dan tahlil kebangsaan di Ponpes Mabadiul Ihsan, Tegalsari, Selasa malam (11/6).

Acara tersebut dihadiri Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, Ketua DPRD Banyuwangi yang juga ketua PDIP Banyuwangi I Made Cahyana Negara, jajaran pengurus partai berlambang banteng tersebut, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Ketua DPC PDIP Banyuwangi, I Made Cahyana Negara mengatakan, halal bihalal merupakan tradisi baik untuk menjaga tali silaturahim di antara kader partai dengan masyarakat. “Mari kita saling memaafkan dan ke depan terus bergotong royong meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat,” kata Made.

Made menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran partai atas kerja keras dan gotong royongnya sehingga PDI Perjuangan mampu mempertahankan kemenangan di Banyuwangi. Bahkan, jumlah perolehan kursi DPRD bertambah dari 10 kursi menjadi 12 kursi.

Sementara Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, halal bihalal tidak hanya sebagai tradisi, namun memiliki makna historis yang penting untuk rekonsiliasi nasional.

“Halal bihalal juga bagian dari turunan dari karakter gotong royong yang melekat di bangsa kita," ungkap Azwar Anas yang juga kader PDIP.

Anas kembali menyampaikan tentang munculnya istilah “halal bihalal” di Indonesia yang merupakan hasil dialog Presiden Sukarno dan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Wahab Chasbullah. Saat itu, di awal-awal kemerdekaan, situasi politik memanas. Sejumlah pemberontakan juga terjadi di beberapa daerah.

"Dalam kondisi demikian, Bung Karno lantas mengundang para ulama. Di antaranya adalah KH Wahab Chasbullah. Dari pertemuan itulah tercetus gagasan halal bihalal, karena dimaksudkan untuk menghalalkan dan menghapus dosa permusuhan di antara sesama anak bangsa ketika itu," urai Anas.

Gagasan halal bi halal tersebut, benar-benar manjur. Para tokoh nasional yang awalnya terlibat pertentangan politik bisa bertemu dalam nuansa yang damai pada saat halal bi halal Idul Fitri 1948.

"Hingga saat ini, halal bihalal tetap relevan untuk menjadi media rekonsiliasi, termasuk masa-masa saat ini," terang Anas.

Tidak sekadar halal bihalal, acara tersebut juga dirangkai dengan tahlil kebangsaan untuk mendoakan para tokoh bangsa, mulai Presiden Sukarno, KH. Hasyim Asy'ari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Taufiq Kiemas.

“Beliau-beliau adalah tokoh bangsa yang berjuang keras merajut ke Indonesiaan,” ujar Anas.

Anas menambahkan, acara tersebut sekaligus untuk memperingati haul mantan ketua MPR Taufik Kiemas yang wafat 8 Juni 2013 lalu.

“Pak Taufiq Kiemas berjasa dengan gagasannya untuk mendorong pemahaman terhadap 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan gagasan tersebut, Pak Taufik ingin menguraikan pentingnya menjaga NKRI dengan mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara,” tutur Anas. 

Penulis: Haorrahman
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved