Kabar Blitar

Tradisi Jamasan Kentong Robyong Kiai Bangbang Wetan Jala Tengara Di Istana Gebang Kota Blitar

Para seniman menyulap batang pohon gada di halaman depan Istana Gebang yang tumbang beberapa waktu lalu menjadi sebuah kentongan.

Tradisi Jamasan Kentong Robyong Kiai Bangbang Wetan Jala Tengara Di Istana Gebang Kota Blitar
suryamalang.com/Samsul Hadi
Jamasan pusaka Kentong Kiai Bangbang Wetan Jala Tengara di Istana Gebang, Kota Blitar. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Suara gamelan terdengar mengalun sayup-sayup dari halaman samping kiri Balai Kesenian Istana Gebang, Kota Blitar, Kamis (13/6/2019) malam. Beberapa orang mengenakan pakaian adat jawa dan blangkon duduk bersila di atas panggung berukuran mini sambil melantunkan tembang macapatan.

Di depan panggung, para tamu undangan duduk khidmat menikmati alunan musik gamelan dan tembang macapatan. Di samping pangung terdapat bangunan mirip gubuk tanpa atap dan dinding berbahan batang bambu. Bangunan mirip gubuk itu dihias dengan janur di sekelilingnya.

Di dalam bangunan mirip gubuk berdiri sebuah kentongan robyong. Kentongan itu merupakan hasil kreasi sejumlah seniman di Blitar Raya. Mereka menyulap batang pohon gada di halaman depan Istana Gebang, yang tumbang beberapa waktu lalu menjadi sebuah kentongan.

Malam itu, kentongan dengan tinggi 3,5 meter dan berdiameter sekitar 1 meter tersebut dijamasi atau disucikan sebelum diresmikan pada Minggu (16/6/2019). "Malam ini, kami adakan jamasan pusaka kentong robyong. Rencananya kentongan itu kami resmikan Minggu," kata Sonny Yuliono, ketua panitia sekaligus salah satu seniman yang ikut membuat kentongan robyong.

Kentong robyong merupakan kentongan yang dihiasi dengan pahatan dan dibuat oleh banyak orang. Mereka memberi nama kentong robyong itu dengan sebutan Kiai Bangbang Wetan Jala Tengara. Kiai adalah sebutan untuk sesuatu bisa benda maupun manusia.

Bangbang wetan memiliki makna cahaya kemerahan sebelum matahari terbit dari timur. Sedangkan jala berarti jaring sebagai alat mengumpulkan sesuatu. Tengara sendiri diartikan sebagai tetenger atau penanda. Secara keseluruhan nama itu kurang lebih memiliki makna cahaya merah dari timur sebagai penanda pemersatu.

Nama itu dipilih karena pembuatan dan bahan kentongan dari Istana Gebang, rumah orang tua Ir Soekarno atau Bung Karno. Nama Bangbang Wetan mirip dengan julukan Bung Karno sebagai Putra Sang Fajar.

"Kami memilih membuat kentongan karena kentongan merupakan alat komunikasi zaman dulu yang mulai punah. Padahal, dulu, kalau mengumpulkan orang menggunakan kentongan. Ada bahaya peringatannya juga menggunakan kentongan," ujar Sonny.

Sonny mengatakan, pembuatan kentongan itu hampir enam bulan. Pembuatannya dilakukan banyak orang termasuk para seniman secara swadaya. Kentongan itu dipenuhi pahatan para seniman di Blitar Raya. Pahatan pada kentongan menceritakan kisah Ramayana yang disesuaikan dengan kondisi bangsa kini.

Cuplikan kisah Ramayana di kentongan, misalnya, relief Sinta sebagai simbol ibu pertiwi yang dikuasai Rahwana yang menggambarkan angkara murka. Kemudian Sinta diselamatkan oleh Jatayu atau Burung Garuda. Ternyata Jatayu kalah dengan Rahwana.

"Jatayu kalah karena tidak melaksanakan nilai-nilai di dada garuda sepenuhnya. Kalau disesuaikan dengan kondisi saat ini, bangsa kita masih saling bertengkar karena tidak menerapkan nilai-nilai Pancasila secara keseluruhan," katanya.

Karena Jatayu kalah, Rama mengutus seseorang untuk menyelamatkan Sinta. Seseorang yang diutus Rama, yaitu Hanoman. Hanoman ini bisa diartikan nomnoman atau para generasi muda. Dengan dibekali senjata sakti trisula, Hanoman bisa menyelamatkan Sinta.

Senjata trisula ini untuk masa kini bisa diartikan konsep trisakti Bung Karno. Yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. "Inti pesan ceritanya, kalau kita menerapkan nilai-nilai Pancasila dan Trisakti maka ibu pertiwi akan selamat dari angkara murka," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar, Tri Iman Prasetyono mengapresiasi karya para seniman. Dia akan meletakan kentongan di kompleks Istana Gebang. Tapi, dia belum tahu akan diletakan di sebelah mana kentongan itu. "Kami carikan tempat dulu yang tepat, sambil menunggu anggaran di PAK," katanya saat hadir di acara jamasan kentongan. 

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved