Kabar Surabaya

Pilihan Kalimat 'Deklarasi Damai' Lebih Bagus daripada 'Deklarasi Tolak Kerusuhan'

"Misalkan pimpinan salah satu kubu tidak memunculkan, pandangan-pandangan negatif maka potensi konflik itu tidak akan terjadi," tandasnya.

Pilihan Kalimat 'Deklarasi Damai' Lebih Bagus daripada 'Deklarasi Tolak Kerusuhan'
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Massa aksi terlibat bentrokan dengan aparat Kepolisian di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). Massa aksi pendukung salah satu pasangan capres yang sebelumnya berunjuk rasa di depan Bawaslu, menyerang Asrama Brimob Petamburan dan membakar beberapa kendaraan. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Penggunaan susunan kalimat 'Tolak Kerusuhan' dalam deklarasi damai oleh Forkopimda Jatim, disoroti tajam oleh pengkaji psikologi politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag), Andik Mutulessy.

Menurut pria asal Bojonegoro itu, susunan kalimat 'Tolak Kerusuhan atau Anti Kerusuhan' cenderung memantik persepsi negatif, bagi pembacanya.

"Penggunaan bahasa itu harusnya positif ya ya itu harusnya positif. Kalimat itu sebenarnya bahasa yang negatif," katanya, Sabtu (15/6/2019).

Mengapa demikian?

Andik menerangkan, dalam suasana politik-pemerintahan yang tak menentu pasca Pemilu Serentak April lalu, psikologi masyarakat secara kolektif begitu sensitif.

"Karena semua orang kan lagi sensitif penggunaan bahasa penggunaan apa pun harus dipikirkan secara matang lagi di dalam memberikan statement," jelasnya.

Bila dimaknai secara mendalam, lanjut Andik, susunan kata 'Tolak Kerusuhan atau Anti Kerusuhan' cenderung menimbulkan makna bahwa ada pihak ataupun entitas lain yang sedang dilawan.

"Karena statemen negatif itu akan memunculkan respons negatif juga bagi kelompok lain yang kita anggap sebagai perusuh," ucapnya.

Jikalau deklarasi di Monumen Polisi Istimewa, Tegalsari, Surabaya, Minggu (16/6/2019) besok, bermaksud menangkal potensi buruk selama sidang sidang permohonan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK), Andik merekomendasikan mengubah diksi dalam deklarasi itu menjadi lebih positif.

"Menurut saya menggunakan istilah 'deklarasi damai' lebih bagus daripada menggunakan Istilah 'deklarasi tolak kerusuhan'," katanya.

"Rusuh tidaknya itu tergantung pada pimpinan. Misalkan pimpinan salah satu kubu tidak memunculkan pandangan-pandangan negatif maka potensi konflik itu tidak akan terjadi," tandasnya. LUHUR PAMBUDI

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved