Kabar Banyuwangi

Parade Kostum Berbahan Baku Bambu Di Banyuwangi, Cara Unik Desa Gintangan Promosikan Bambunya

Festival yang digagas oleh warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari ini menampilkan beragam kostum dari material bambu dengan sangat menarik.

Parade Kostum Berbahan Baku Bambu Di Banyuwangi, Cara Unik Desa Gintangan Promosikan Bambunya
suryamalang.com/Haorrahman
Salah satu peserta festival kostum berbahan baku bambu di Banyuwangi 

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Memasuki tahun ketiga, Festival Bambu Gintangan 2019 dikemas lebih atraktif, Sabtu (15/6/2019) sore. Festival yang digagas oleh warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari ini menampilkan beragam kostum dari material bambu dengan sangat menarik.

Puluhan busana yang menonjolkan ornamen bambu sukses dikreasi menjadi kostum khas parade oleh warga Desa Gintangan. Kreativitasnya bahkan tak berhenti di situ, mereka juga berhasil menyulap areal persawahan hijau menjadi catwalk bagi talennya.

Berbagai tema kostum pun ditampilkan oleh 42 model yang berasal dari berbagai wilayah di Banyuwangi. Dari yang bertema etnik hingga futuristik.

Para penonton merasa terhibur dengan penampilan mereka. Kostum bambu yang avantgarde, ditampilkan di sebuah panggung di tengah sawah menjadi sebuah pertunjukan yang menarik.

Ketua Panitia Festival Bambu, Dian Effendi mengatakan, banyak anak muda dari luar Desa Gintangan yang tertarik mengikuti event ini. Mereka, kata Dian, tertarik dengan keunikan kostum bambu sebagai material utama.

"Pesertanya umum, tidak hanya dari Gintangan saja. Tapi, juga diikuti oleh peserta dari daerah lain. Mereka tertarik dengan konsepnya," ungkap Dian.

Rerata untuk mendesain kostum tersebut membutuhkan waktu sehari hingga dua hari. Yang terhitung cukup lama adalah menyiapkan bahan bakunya yang terbuat dari bambu.

"Bambunya perlu melalui proses pengeringan terlebih dahulu. Agar bisa lentur dan dipola sesuai desain. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi peserta," jelasnya.

Untuk biayanya sendiri, relatif murah. Setiap peserta hanya menghabiskan 500 ribu sampai dua juta rupiah. "Semua digarap secara mandiri, jadinya lebih murah biaya yang dikeluarkannya," ujar Dian.

Pengunjung juga dimanjakan dengan aneka tari-tarian di catwalk yang menyerupai panggung terbuka itu. Mengangkat kisah perjuangan Wong Agung Wilis menghadapi pasukan VOC, sendratari yang ditampilkan memukau para penonton.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan, event ini digelar juga untuk mempromosikan potensi kerajinan bambu Desa Gintangan.

"Ini salah satu cara mempromosikan bambu Gintangan asal Banyuwangi. Kami ingin agar orang tahu bahwa Banyuwangi memiliki bambu Gintangan dengan kualitas ekspor,"

Selama ini Desa Gintangan memang dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Banyuwangi. Produknya bahkan telah diekspor ke mancanegara. Tak hanya itu, bambu Desa Gintangan ini bahkan telah diekspor ke Maldive.

Bramuda mengharapkan, dengan semakin tersohornya Gintangan sebagai pusat kerajinan bambu dapat menarik perhatian pasar mancanegara lainnya.

"Tentunya, ini akan semakin mensejahterakan masyarakat Gintangan khususnya, dan Banyuwangi pada umumnya," pungkasnya.

Penulis: Haorrahman
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved