Malang Raya

Menuju Kelas Internasional, Disbudpar Kota Malang Gencar Gembleng SDM Pokdarwis

Kota Malang sebagai kota wisata yang memiliki 20 kampung tematik dengan 14 pokdarwis memiliki potensi yang tinggi.

Menuju Kelas Internasional, Disbudpar Kota Malang Gencar Gembleng SDM Pokdarwis
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Pengguna jalan melintasi jembatan yang rangka bajanya disorot lampu warna warni di Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang, Rabu (14/3/2018) malam. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Perkembangan pariwisata berbasis kampung tematik saat ini marak digiatkan oleh Pemerintah Kota Malang.

Kota Malang sebagai kota wisata yang memiliki 20 kampung tematik dengan 14 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memiliki potensi yang tinggi.

Disbudpar Kota Malang pun melakukan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas Pokdarwis. Tujuannya, agar bisa menggali lebih jauh potensi wisata.

Sekadar informasi, kampung tematik yang ada di Kota Malang di antaranya Kampung Warna Warni Jodipan, Kampung Budaya Polowijen, Kampung Tridi, Kampung Biru Arema, Kampung Gribig Religi, Kampung Putih, Kampung Keramik Dinoyo, Kampung Kramat, serta yang terbaru Kampung Haritage Kayutangan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni menerangkan pelatihan yang dialaksanakan selama tiga hari sejak 16-18 Juni 2019 di Grand Palace itu dapat meningkatkan wawasan para pengelola wisata agar destinasi wisata lebih meningkat kreativitasnya. Di samping itu juga bisa melahirkan ikon yang menjadi kekhasan Kota Malang.

"Industri pariwisata yang salah satunya sentra industri akan dikuatkan sebagai wisata edukasi seperti keramik, gerabah, rotan, tempe dan olahan buah," ujar Ida, Selasa (18/6/2019).

Kepala Bidang Promosi Pariwisata Disbudpar Kota Malang menerangkan pelatihan pengembangan tata kelola destinasi wisata di Kota Malang diarahkan agar wisatawan dari luar negeri datang ke Kota Malang. Oleh sebab itu, pelatihan itu nantinya diharapkan bisa menaikan standar kelayakan tempat wisata sampai kelas internasional.

“Nah, karena sebagian besar di Kota Malang adalah kampung tematik, maka kami undang 40 orang pengelola pokdarwis. Kami latih supaya mereka bisa menjadikan tempat mereka sebagai tujuan wisata yang memenuhi standar kelayakan wisata,” kata Agung.

Misal, memenuhi harapan yang ada di Sapta Pesona. Termasuk pemenuhan sarana dan prasarana seperti kamar mandi, toilet. Selanjutnya, Disbudpar Kota Malang akan mengajarkan pengelolaan destinasi memanfaatkan media sosial untuk promosi.

“Terus kami juga minta agar destinasi wisata bisa menjadi tempat dan jujugan wisatawan yang standar internasional. Kalau standar internasional di antaranya, papan informasi harus berbahasa Inggris. Itu salah satunya,” paparnya.

Saat ini, tempat wisata di Kota Malang, terbagi dalam tiga kategori. Yakni kategori berkembang, mulai berkembang dan rintisan.

“Memang lokasi wisata di Kota Malang belum memenuhi standar internasional, namun sedang menuju ke sana. Kami ingini tamu wisatawan asing, makannya kalau tidak dimulai dari sekarang, ya tidak jadi,” tegasnya.

Selain itu, juga terdapat pelatihan pemandu wisata yang nantinya pemandu akan menggunakan bahasa Inggris dalam melayani tamu-tamu internasional. 

Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved