Kabar Tulungagung

Bantuan Instalasi Air Bersih di Tulungagung Diperjual Belikan, Air Mengalir Jika Bayar Rp 1,7 Juta

Bantuan berupa meteran air dan instalasi pipa ke saluran utama ini seharusnya dibagikan gratis kepada warga. Namun nyatanya diperjual belikan.

Bantuan Instalasi Air Bersih di Tulungagung Diperjual Belikan, Air Mengalir Jika Bayar Rp 1,7 Juta
suryamalang.com/David Yohanes
Warga memeriksa meteran air, bagian dari bantuan instalasi air bersih dari Dinas PUPR Tulungagung. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Kekurangan air bersih mulai dirasakan warga Desa Winong, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung. Setiap sore dan pagi hari, warga mencari air bersih di sungai yang mengalirkan sisa-sisa air.

Desa ini memang masuk 15 peta desa rawan bencana kekeringan. Namun, di tengah kesulitan warga mendapatkan air bersih, bantuan 100 instalasi air bersih tidak berfungsi semestinya.

Bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang (PUPUR) Tulungagung ini diberikan November 2018 lalu. Bantuan berupa meteran air dan instalasi pipa ke saluran utama ini seharusnya dibagikan gratis kepada warga. Namun nyatanya, bantuan tersebut justru diperjual belikan seharga Rp 1.750.000 per paket.

“Untuk pasang diminta membayar Rp 1.750.000, diangsur dua kali,” kata Yuyun, warga Dusun Mongkrong , Desa Winong.

Sejumlah warga memang mendapatkan bantuan ini secara gratis. Namun setelah dipasang air tidak lekas dialirkan. Mereka harus bayar Rp 1.700.000 agar air dialirkan.

Menurut Ketua Badan Musyawarah Dusun Mongkrong, Hermanto, bantuan itu untuk siapa saja yang belum teraliri instalasi air bersih. Bantuan dikelola oleh Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) Tirto Langgeng.

“Harapannya dengan bantuan itu, masyarakat lebih mudah mendapatkan pasokan air bersih selama musim kemarau,” ujar Hermanto.

Diduga ada pihak yang memainkan bantuan itu untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa bantuan sudah dipasang di rumah warga.

Namun karena tidak kunjung membayar, meteran dan kran air yang terlanjur dipasang dicopot lagi, dan dipindah ke warga lainnya.

Seperti yang dialami oleh Makrus, warga dusun yang sama. Sejumlah warga kurang mampu juga mengalami hal serupa dengan yang dialami Makrus. “Beberapa memang hanya dipasang, diambil foto, tidak lama kemudian dipindah,” sambung Hermanto.

Warga berharap ada transparansi terkait bantuan itu. Sebab, bantuan yang seharusnya meringankan beban warga di masa kekeringan, namun hingga kini tidak memberi dampak apa pun. "Hingga kinipun belum ada konfirmasi dari pihak pengurus Hippam Tirto Lenggeng Desa Winong terkait persoalan itu," tutur Hermanto.

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved