Breaking News:

Kabar Surabaya

Sembilan BUMD Sumbang PAD Jatim Sebesar Rp 384 Miliar, Bank Jatim Penyumbang Pendapatan Terbesar

Sembilan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Timur memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jawa Timur senilai Rp 384 miliar.

surymalang.com/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Sembilan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Timur memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jawa Timur senilai Rp 384 miliar lebih selama 2018. Realisasi tersebut mencapai 100 persen dari target yang telah ditetapkan.

"Realisasi PAD dari BUMD, khusus terkait PAD tahun 2018 telah sesuai dengan target yang ditetapkan," kata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dikutip dari Jawaban Gubernur atas Pemandangan Umum Fraksi DPRD Jatim, Jumat (21/6/2019).

Hal itu disampaikan Gubernur terkait pembahasan Perda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2018 uang disampaikan pada Rapat Paripurna, Kamis (20/6/2019).

Dari rincian yang disampaikan tersebut, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur atau yang dikenal dengan Bank Jatim memberikan setoran terhadap PAD paling besar. Bank Jatim memberikan setoran senilai Rp 338,5 miliar.

Di urutan kedua ada PT Bank Perkreditan Rakyat Jawa Timur yang memberikan realisasi PAD sebesar Rp 13,6 miliar. Kemudian, di urutan ketiga ada PT Surabaya Industrial Estate (Sier) yang mencatat realisasi sebesar Rp 12,2 miliar.

Sementara, PT Jamkrida Jatim (Penjaminan Kredit Daerah) mencatat realisasi PAD paling rendah dengan Rp 700 juta. Berada di bawah Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) yang menyumbang PAD sebesar Rp 1,9 miliar.

Setoran dari BUMD tersebut menjadi salah satu bagian penerimaan PAD Jatim di 2018. Selain dari BUMD, PAD di Jatim juga mendapatkan sokongan dari pajak. "Kinerja realisasi penerimaan tiga sektor pajak daerah terhadap PAD juga melebihi target," kata Khofifah yang juga mantan Menteri Sosial RI ini.

DPRD Jatim pun masih menyoroti kinerja Bank Jatim meskipun memberikan setoran PAD tertinggi dibandingkan bank lain. Kinerja Bank Jatim dinilai masih bisa dimaksimalkan demi memberikan PAD lebih tinggi.

Hal ini terlihat dari dari sisi penyaluran credit atau Loan Deposit Ratio (LDR) yang baru mencapai 62 persen. "Padahal, aturan BI rentangnya ada di angka 80-85 persen untuk kredit yang keluar," jelas Ketua Komisi C, Anik Maslachah dikonfirmasi terpisah.

Rendahnya LDR berpengaruh pada laba perusahaan yang tak dapat dimaksimalkan. "Kalau kredit tak disalurkan, banyak uang macet, ngendon, dan tak berfungsi. Hal ini berdampak pada laba tak signifikan," katanya.

Laba yang tak signifikan mengakibatkan dividen (pembagian laba) Bank Jatim terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jatim juga menurun. "Rentabilitas (kemampuan menghasilkan laba) berpengaruh terhadap deviden. Di Jateng, untuk deviden ini bisa mencapai 23 persen. Tapi, di Jatim baru 17,6 persen. Seharusnya, Jatim dengan berbagai potensinya bisa sebanding atau lebih," katanya.

Beruntung, Non Performing Loan (NPL) Bank Jatim cukup baik dengan memperoleh 3,7 persen. "Di antara BUMD milik Jatim, BUMD yang berorientasi provit adalah Bank Jatim. Rasio keuangan sejauh ini memang sehat. NPL turun dari di atas 5 persen, kini 3,7 persen," katanya. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved