Kabar Surabaya

566 Desa di Jatim Rawan Kekeringan Selama Musim Kemarau, Puncaknya Agustus 2019

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur memetakan sebanyak 566 desa di Jawa Timur yang rawan mengalami kekeringan.

566 Desa di Jatim Rawan Kekeringan Selama Musim Kemarau, Puncaknya Agustus 2019
david yohanes
SAWAH KEKURANGAN AIR - Musim kemarau mulai berdampak pada tanaman padi di Tulungagung. Puluhan hektar sawah kesulitan air dan terancam gagal panen. Paling banyak sawah yang kekurangan air ini berada di Kecamatan Besuki dan Bandung. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur memetakan sebanyak 566 desa di Jawa Timur yang rawan mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Sebanyak 566 desa tersebut diprediksi bakal mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini yang akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus mendatang.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Kepala BPBD Province Jawa Timur Subhan Wahyudiono. Pada Surya, Senin (24/6/2019), Subhan menyebut bahwa pemetaan wilayah yang rawan kekeringan sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu.

Pihaknya bersama tim memetakan bahwa ada 556 desa yang ada di 180 kecamatan dan di 24 Kabupaten di Jawa Timur yang rawan mengalami kekeringan.

“Kami judah melakukan pemetaan sebulan yang lalu untuk wilayah Jawa Timur yang rawan mengalami kekeringan. Dari pemetaan itu ada sebanyak 556 desa. Yang paling rawan, tertinggi ada di Kabupaten Sampang. Di sana kami petakan akan ada sebanyak 67 desa yang mengalami kekeringan," kata Subhan.

Di bawah Kabupaten Sampang, ada Kabupaten Tuban yang diprediksi akan mengalami kekeringan sebanyak 55 desa. Dan di urutan ketiga ada Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Pacitan yang dipetakan akan sebanyak 45 desa yang mengalami kekeringan.

Dari bekal pemetaan tersebut, pihaknya sudah mengadakan rakor dengan sejumlah dinas terkait dan melibatkan Bakorwil di Jawa Timur. Serta Pemprov mengirimkan surat edaran pada bupati untuk segera melakukan antisipasi pada bencana kekeringn.

"Dalam surat edaran kami juga sampaikan bahwa BPBD menyiapkan bantuan berupa penyaluran air bersih untuk kebutuhan dasar seperti mandi, makan/minum, mencuci, bagi daerah yang mengalami kekeringan," tegasnya.

Namun hingga kini, meski sudah banyak daerah yang mengeluhkan mengalami kekeringan, dikatakan Subhan, belum ada daerah yang meminta bantuan ke BPBD Jawa Timur. Menurutnya, kekeringan di daerah masih bisa diatasi oleh pemerintah daerah di kabupaten kota setempat.

"Kita membantu untuk kekeringan yang terjadi dan yang terkait dampak sosial ekonomi. Kalau yang terkait kekeringan di lahan pertanian ditangani oleh bagian dinas pengairan," tegasnya.

Bagi daerah yang meminta bantuan air ke BPBD, maka Pemprov akan mengirimkan truk tangki air ke daerah yang membutuhkan air bersih tersebut. Namun sebagaimana ditegaskan Subhan bantuan tersebut sifatnya adalah berdasarkan permintaan kabupaten atau daerah yang membutuhkan.

Lebih lanjut dikatakan Subhan, sebagai provinsi di negara tropis memang sangat memungkinkan terjadi kemarau. Selain kekeringan yang juga rawan terjadi saat kemarau adalah kebakaran.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved