Kabar Blitar

Harga Daging Ayam di Pasar Anjlok, Peternak Ayam di Blitar Kelimpungan Terancam Bangkrut

Apabila dua pekan lalu harga ayam masih stabil atau cukup tinggi kisaran Rp 17.000 per kg, namun kini jadi Rp 8.000 per kg.

suryamalang.com/Imam Taufik
Aksi para peternak ayam di Blitar yang mengeluhkan turunya harga daging ayam di pasar. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Para peternak ayam di Kabupaten Blitar mengeluhkan ajloknya harga ayam di pasaran. Apabila dua pekan lalu harga ayam masih stabil atau cukup tinggi kisaran Rp 17.000 per kg, namun kini jadi Rp 8.000 per kg.

Anjloknya harga ayam itu, menyebabkan para peternak ayam menjerit karena terancam akan merugi. Ini dikarenakan harga tidak sebanding dengan biaya perawatannya, sampai panen. Misalnya, biaya perawatan setiap satu ekor ayam itu bisa sampai Rp 400 rupiah per hari per ekor. Jika sampai panen atau sekitar 35 hari, bisa menghabiskan biaya Rp 12.000.  Itu belum termasuk ongkos lain-lainnya, seperti ongkos kerja, tarif iistrik dan air.

Peternak ayam asal Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar,Budi S mengatakan, stok ayam di kandangnya masih cukup banyak atau sekitar 500 ekor atau sekitar 1,5 ton. Itu semua sudah siap dijual, bahkan bisa dibilang telat untuk dipanen.  Semestinya, itu sudah terjual. Namun, sampai kini masih dibiarkan di kandang karena tak ada tengkulak yang membelinya.

Kalau pun, ada pembeli, papar dia, itu harganya tak sesuai dengan harga pasaran.  Bayangkan, harga di kandang itu hanya berkisar antara Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per kg. Sementara, harga di pasar bisa mencapai Rp 15.000 per kg. Untuk kalangan peternak, itu tak mungkin dijual dengan diecer atau dibawa sendiri ke pasar.

"Daripada harganya murah, ya terpaksa para peternak menyimpan ayamnya di kandang, sampai menunggu harganya stabil. Cuma masalahnya, semakin lama kami merawatnya di kandang, juga berisiko. Selain biayanya terus membengkak, di antaranya, buat beli pakan, juga ongkos lainnya terus membengkak, seperti ongkos kerja, biaya listrik dan air. Belum lagi, resiko kematian," papar pengusaha ternak ayam berusia 28 tahun ini.

Ajloknya harga ayam ini, menurutnya, karena banyak faktor. Di antaranya, ada dugaan permainan pasar. Itu biasa terjadi setiap musim panen, sehingga berdampak pada kerugian peternak. Bahkan, khawatir kian merugi kalau terus menyetok ayamnya di kandang, ada peternak yang sempat mengecer ke pasar. Namun, itu tak mudah karena seringkali bisa bertengkar dengan pedagang ayam yang asli berjualan di pasar.

"Pengusaha seperti kami ini tak bisa berbuat banyak. Semestinya, setiap musim panen ayam itu, harganya harus stabil, ya minimal Rp 15.000 per kg. Namun, sudah sejak habis lebaran kemarin, tiba-tiba harga ayam ajlok," ungkapnya.

Karena itu, para pengusaha ternak ayam di Blitar, minta agar pemerintah menstabilkan kembali harganya. Bahkan, kalau bisa penegak hukum itu menelusuri dugaan permainan pasar. Sebab, di Kabupaten/Kota Blitar itu ada sekitar 900 pengusaha ternak ayam.

"Kalau harga ayam (potong) ini tak bisa stabil dan pemerintah tak turun tangan, ya berdampaknya merugikan peternak. Sebab, buat mengembalikan biaya pokoknya saja, tak bisa," ungkapnya.

Fadli (32), peternak ayam asal Desa/Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar  mengatakan, stok ayam di kandangnya masih cukup melimpah. Itu karena dirinya tak bisa menjual karena tengkulak tak mau membelinya. Katanya, stok di pasaran masih banyak. Padahal, stok di peternak belum semua dikeluarkan.

"Pertanyaannya, itu stok ayam darimana yang memenuhi kebutuhan masyarakat di pasaran itu. Padahal, di sini itu dikenal jumlah peternaknya paling banyak," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikaanan Pemkab Blitar, Adi Andaka mengatakan, pihaknya akan mengupayakan dengan membantu keluhan peternak. "Kami akan mencarikan pasar ke luar daerah, seperti yang berlangsung selama ini. Kami akan cek pasaran di Jakarta, kenapa kok permintaan menurun atau tak seperti biasanya. Jangan-jangan ada dugaan permainan, seperti yang dikatakan para peternak itu," pungkasnya.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved