Kabar Banyuwangi

Unej dan LPDP Latih Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Masyarakat Osing Banyuwangi

Dari hasil riset tersebut optimalisasi potensi budaya Osing bisa menjadi industri ekonomi kreatif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Unej dan LPDP Latih Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Masyarakat Osing Banyuwangi
suryamalang.com/Haorrahman
Tim Unej dan LPDP dalam pelatihan keterampilan masyarakat osing Banyuwangi 

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Universitas Negeri Jember (Unej) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, memberikan pelatihan dan pendampingan ekonomi kreatif pada masyarakat Suku Osing Banyuwangi berbasis budaya.

Dipilihnya budaya karena masyarakat suku Osing memegang teguh budaya suku asli Banyuwangi tersebut. "Pemberian pelatihan dan pendampingan ini berdasarkan rekomendasi hasil riset dari LPDP dan Unej," kata Latif Bustami, Tim Riset LPDP yang juga Dosen Program Doktor Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang, Minggu (30/6).

Dari hasil riset tersebut optimalisasi potensi budaya Osing bisa menjadi industri ekonomi kreatif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

Latif mengatakan, hal itu merupakan upaya kongkrit yang tidak hanya bersifat akademis dan artifisial. Puluhan masyarakat Osing dibekali pelatihan dan pendampingan agar hasilnya bisa dinikmati secara berkeberlanjutan.  "Keberlanjutan ekonomis, keberlanjutan antropologis, dan keberlanjutan ekologis," kata Latif.

Pelatihan tersebut melingkupi penulisan cerita rakyat Banyuwangi, penulisan narasi Seblang, dan film dokumenter, serta pembuatan batik Gandrung.

Latif menjelaskan, aspek ekonomi mampu meningkatkan pendapatan keluarga pelaku dan masyarakat sekitar. Keberlanjutan antropologis terdiri nilai, norma, dan tradisi Osing di tengah pesona pasar, purifikasi agama, dan pesona pembangunan. Sementara aspek ekologis dengan kriteria ekosistem lestari dan ruang hidup sehat sehingga kreatifitas terawat.

Pelatihan yang diberikan juga berdasarkan pilihan aspirasi masyarakat. Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diajarkan cara membuat film dokumenter berdasarkan cerita rakyat, seperti cerita rakyat Seblang.
"Kami juga memfasilitasi kamera dan peralatan untuk membuat flim," jelas Latif.

Selain pembuatan film dokumenter, masyarakat juga dilatih pembuatan batik dengan motif gandrung. Gandrung dipilih karena merupakan identitas Banyuwangi.

Menurut Latif, model pelatihan ini menerapkan prinsip andaragogi, praktis dan strategis. Andagogis karena merupakan pendidikan orang dewasa yang fokus pada masalah, fleksibel dan kecakapan hidup mencapai tujuan kongkrit.

Praktis karena penerapannya sesuai dengan kebutuhan, tidak bersifat akademisk. Strategis karena peserta pelatihan adalah pelaku budaya dan hasilnya bermanfaat untuk keberlanjutan.

Penulis: Haorrahman
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved