Breaking News:

Kabar Surabaya

Dua Terdakwa Jual Beli 12 Komodo Saling Bantah di Pengadilan Negeri Surabaya

Supaya lolos dari ekspedisi dan jasa pengiriman lainnya, Subhun mengaku bahwa barangnya adalah seekor ular

www.inovasee.com / pemburuombak.com
Komodo 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Terdakwa Rizal Satria kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara penjualan satwa langka yaitu Komodo. Kali ini terdakwa lainnya Vekki Subhun menjadi saksi.

Dalam kesaksiannya, Subhun menyatakan dirinya mencarikan pesanan barang dari terdakwa Rizal. Dia memesan 12 ekor Komodo. Transaksinya melalui Facebook.

"Saya carikan langsung, ya ada kenalan pemburu yang menawarkan Komodo," terang Subhun, Rabu (3/7/2019).

Dia menjualnya seharga Rp 12 juta per ekor dengan berat dan ukuran yang bervarian. Subhun pun membungkus Komodo itu di dalam sebuah tabung pipa yang telah dirangkai sedemikian rupa lalu menaruhnya di dalam kardus.

Terdakwa Subhun (kanan) dan Afandi saat menjadi saksi atas perbuatan terdakwa Rizal yang membeli Komodo saat menjalani sidang di PN Surabaya, Rabu (3/7/2019).
Terdakwa Subhun (kanan) dan Afandi saat menjadi saksi atas perbuatan terdakwa Rizal yang membeli Komodo saat menjalani sidang di PN Surabaya, Rabu (3/7/2019). (Syamsul Arifin)

Supaya lolos dari ekspedisi dan jasa pengiriman lainnya, Subhun mengaku bahwa barangnya adalah seekor ular. "Ngakunya Ular, kan ular ada yang legal," lanjutnya.

Sejak tahun 2016, Komodo yang telah dijual Subhun sebanyak 40 ekor dan ukuran yang paling besar berukuran satu meter.

Mendengar kesaksian Subhun, terdakwa Rizal mengelak. Dia berdalih bahwa dirinya tidak membeli Komodo melainkan burung Nuri. "Saya belinya burung bukan Komodo tapi diakuinya Komodo," bantahnya.

Akan tetapi, terdakwa Subhun bersiteguh bahwa dengan adanya bukti nilai transfer dari transaksi yang telah disepakati.

Lika-liku Penyelundupan Puluhan Komodo dari NTT ke Thailand Lewat Surabaya, Batam dan Malaysia

Mereka diancam Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a dan c Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekositemnya jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP dengan hukuman penjara maksimal selama 5 tahun dan denda Rp100 juta. Syamsul Arifin

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved