Kota Batu

Minat Padi Organik di Kota Batu Masih Kurang

Metode pertanian organik di Kota Batu masih belum banyak petani yang menerapkan.

Minat Padi Organik di Kota Batu Masih Kurang
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Petani padi di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo saat panen Padi. 

SURYAMALANG.COM, KOTA BATU - Metode pertanian organik di Kota Batu masih belum banyak petani yang menerapkan.

Tidak hanya sayuran, tetapi juga tanaman padi di Kecamatan Junrejo.

Sebagai penghasil padi utama di Kota Batu, petani junrejo masih belum banyak yang menerapkan pertanian organik.

Padahal tidak ada perbedaan dari masa tanam, dan hasil produksinya juga tidak jauh berbeda.

Budi Winulyo Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Junrejo, mengatakan perbedaannya hanya pada cara tanam saja.

“Karena petani di sini masih sulit meninggalkan kebiasaan penggunaan 50 persen pestisida, dan pupuk kimia.”

“Kami dari Dinas Pertanian tetap mengajak petani beralih menggunakan organik,” kata Budi, Minggu (7/7/2019).

Ia menyebutkan hasil panen padi konvensional di Kecamatan Junrejo sekitar 12 ton per hektar. Sedangkan padi organik 9,4 ton per hektar.

Untuk luas lahan yang ada di Kecamatan Junrejo sekitar 500 hektar.

Lahan padi organik ada sekitar tidak lebih dari 250 hektar.

“Konvensional masih mendominasi, paling banyak yang organik itu ada di Desa Pendem, sekitar 210 hektar,” imbuhnya.

Selain sampai saat ini di Desa Junrejo ada 11 kelompok tani.

Mereka mulai menanam di bulan Mei hingga Juli dalam progam sekolah lapang yang digagas Dinas Pertanian Kota Batu.

Progam tersebut sebagai upaya menarik minat petani konvensional agar beralih ke jenis organik.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved