Universitas Negeri Malang

VOBOR, Aplikasi Belajar Bahasa Asing untuk TKI Ciptaan Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM)

Lima mahasiswa Universitas Negeri Malang membuat aplikasi VOBOR, A Virtual Reality Based Training Media in Reducing Language Barrier.

VOBOR, Aplikasi Belajar Bahasa Asing untuk TKI Ciptaan Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM)
Sylvianita Widyawati
Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) dengan VOBOR yang bisa membantu calon TKI mengatasi kendala bahasa asing. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Kendala bahasa asing sering menjadi tantangan bagi calon TKI.

Oleh karena itu, lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) membuat aplikasi VOBOR. Singkatan dari A Virtual Reality Based Training Media in Reducing Language Barrier.

Calon TKI bisa belajar bahasa dan jenis pekerjaan mereka lewat alat ini.

"Tapi alatnya baru bisa diaplikasikan dua bulan lagi. Kami sudah menyerahkan hak ciptanya. Jika belum keluar, kami tidak berani karena takut ditiru," jelas Dani Prasetyo kepada Suryamalang.com.

Untuk simulasi, alatnya baru menyediakan empat jenis pekerjaan. "Jadi calon TKI bisa berinteraksi dengan alat kecerdasan buatan ini," terang mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris UM ini.

Untuk operasionalnya, pengguna bisa memilih jenis pekerjaan dan negara tujuan. Jika memilih negara Hongkong, maka bahasa Inggrisnya aksen Hongkong.

Sedang untuk jenis pekerjaan mekanik, maka akan dioperasionalkan mesin. Sedang untuk home taker yaitu menyediakan obat-obatan untuk lansia serta pengantar barang.

"Rencana kami nanti membuat 10 jenis pekerjaan dengan empat negara tujuan," jelas dia.

Alasannya karena empat negara itu yang kerap jadi tujuan calon KTI. Yaitu Hongkong, Malaysia, Singapura dan Taiwan. "Negara lainnya di bawah lima persen," terang Dani.

Ia menyebut alat itu sudah divalidasi oleh P4TKI. Katanya alat ini akan diadopsi jika sudah jadi. "Dibanding dengan pelatihan konvensional, memakai alat ini lebih murah," kata dia.

Sebab biayanya bisa mencapai lebih dari Rp 5 juta. Bahkan tak jarang biayanya dibebankan pada calon TKI. Sehingga meski ia sudah bekerja, masih mencicil biaya yang ditimbulkan dari pelatihannya. Pada 2018, sebanyak 283.640 TKI dikirim ke berbagai negara di dunia.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved