Breaking News:

Kabar Jombang

Tak Kuasa Nahan Nafsu Jelang Pernikahan, Chat WhatsApp Mesum Soal Organ Intim Viral di Media Sosial

Tak Kuasa Tahan Nafsu Jelang Pernikahan, Percakapan Mesum WhatsApp (WA) Soal Organ Intim Ini Viral di Media Sosial, Diduga Dilakukan Warga Jombang

Penulis: Sutono | Editor: eko darmoko
www.theguardian.com
ILUSTRASI - Percakapan mesum tentang organ intim di WhatsApp (WA). 

Orang tua korban yang tak terima anak perempuannya diperlakukan seenaknya oleh tersangka, melapor ke polisi.

“Setelah melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi, tersangka berhasil kami ringkus di rumahnya pada Jumat (5/7/2019) lalu,” ungkap Kasatreskrim AKP Azi Pratas Guspitu.

Selain menangkap tersangka ke Mapolres Jombang, polisi juga menyita barang bukti.

Di antaranya, pakaian yang dikenakan korban saat kejadian persetubuhan, serta 2 buah handphone (HP), masing-masing milik tersangka dan korban.

“Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 293 KUHP, dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun penjara,” pungkas AKP Azi Pratas Guspitu.

ILUSTRASI
ILUSTRASI (Ilustrasi Tribunnews.com)

Kakek 71 Tahun Tiduri Anak Angkat Hingga Hamil

Kakek berusia 71 tahun berinisial HS di Bekasi, Jawa Barat tega berbuat cabul terhadap anak angkatnya EPJD (15) sejak Desember 2018.

Bahkan, akibat perbuatan kakek HS tersebut, anak angkat sampah hamil dan melahirkan. Tragisnya, setelah melahirkan, anak angkat yang dihamili kakek HS tersebut meninggal dunia bersama anak yang lahir prematur.

Kakek HS dalam melakukan aksi bejatnya kepada anak angkanya itu berkali-kali, bahkan dalam satu minggu bisa dua kali. Aksi bejat tersebut dilakukan Kakek HS di rumahnya di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Gadis cilik EPJD sendiri dititipkan orang tuanya kepada HS dikarenakan ditinggal bekerja di luar negeri sejak tahun 2017. Tak menyangka, bukannya dijaga dan diasuhnya tapi justru EPJD mendapatkan perlakuan cabul hingga hamil.

Kasatreskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Imrom Ermawan mengatakan, awal mula pelaku melakukan aksi bejatnya ketika pelaku meminta korban untuk memijatnya. Ketika dipijat ternyata pelaku terangsang dan meminta korban menuruti keinginan hawa nafsunya untuk berhubungan badan.

Korban tak bisa menolak dikarenakan diancam pelaku jika menolak keinginan pelaku. "Perlakuan ini berlangsung sejak Desember 2018, pelaku cabuli korban hingga berkali kali. Kadang seminggu dua kali atau seminggu sekali hingga korban hamil," katanya kepada awak media, Kamis (4/7/2019).

Kalap Hasrat Tak Tersalurkan, Duda Penyuka Sesama Jenis Setubuhi Mayat Pria yang Dibunuhnya

Di Balik Foto Syahrini & Mertua, Ternyata Ini Alasan Khusus Reino Barack Selalu Pegang Perut Istri

Isi Chat WhatsApp Pasangan Mesum Tak Kuat Tahan Nafsu Jelang Pernikahan, Ini 4 Fakta Soal Sexting

 

Imron mengatakan, tetangga pelaku tidak ada yang curiga atas perilaku pelaku dan korban pun tidak pernah menceritakan apa yang menimpanya kepada warga.

"Warga tidak ada yang sadar, pelaku juga kan ancam korban agar tidak cerita," jelasnya.

Adapun kakek itu hanya tinggal seorang diri di rumahnya dikarenakan istrinya telah lama meninggal. Imron menjelaskan, kasus ini terungkap ketika ada seorang warga curiga penyebab kematian anak angkatnya itu dikarenakan pendarahan.

"Saat ditanya warga pelaku bilang pendarahan, warga curiga pendarahan kan kalau melahirkan. Warga curiga lalu lapor ke polisi," tutur Imron.

Dari situlah, perbuatan cabul HS juga terungkap. Ternyata anak yang dikandung korban merupakan ulah dari kakek tersebut yang juga ayah angkatnya.

Ketika itu pada 30 Juni 2019, korban EPJD dibawa ke rumah sakit di daerah Rawalumbu dikarenakan mengalami sakit pada perutnya.

Saat ditangani di rumah sakit, ternyata korban melahirkan anak dari kandungannya. Dikarenakan lahir dalam kondisi prematur usia 5-6 bulan sehingga bayi tidak bertahan lama lalu meninggal.

Khawatir aksi pencabukan diketahui warga, kemudian pelaku pada tengah malam membawa bayi yang meninggal itu pulang ke rumah untuk dikuburkan di dalam pot dilantai dua.

"Ibunya (korban) masih tidak apa-apa, tapi bayinya meninggal. Lalu pelaku kubur bayi itu dalam pot dilantai dua rumah pelaku," jelas Imron.

Kemudian korban sempat dibawa pulang ke rumah. Namun kondisi korban melemah dan pada Selasa 2 Juli 2019 pukul 16.00 WIB korban dibawa kembali ke rumah sakit. Tapi pukul 18.00 WIB korban dinyatakan meninggal.

"Saat ditanya penyebab kematiannya EPJD itu pelaku gelagapan dan jawab pendarahan, dari situ curiga hingga dilaporkan dan kami tangkap Rabu (3/7/2019) dini hari," ujarnya.

Kemudian polisi mendatangi rumah pelaku membongkar kembali kuburan bayi itu dan melakukan visum kepada korban. "Pelaku akui perbuatan bejat yang telah mencabulinya. Tapi dia ngaku tidak membunuhnya, itu murni lahir prematur yang sebabkan bayi dan ibunya meninggal," ungkapnya.

Kini pelaku sudah ditahan Polres Metro Bekasi Kota dan telah mengakui perbuatannya. Adapun jasad korban dan bayinya telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati guna kepentingan outopsi.

Dalam kasus itu polisi mengamankan barang bukti satu kain batik berwarna cokelat, kerudung berwarna putih, sarung warna biru, baju gamis warna merah, celana dalam cokelat, kain perban warna putih, pembalut bernoda darah, satu pot bunga warna cokelat, dan satu buah serokan plastik.

Pelaku dikenakan Pasal 82 Jo 76E UU RI No. 17 Tahun 2016 dan Pasal 81 Jo 76D UU RI No. 17 Tahun 2016 Tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU RI Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Adapun Ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak lima miliar.

Sebelummya, kakek HS di Bekasi itu diduga melakukan tindakan cabul kepada anak angkatnya berinsial EPJD (15) hingga hamil. Awalnya warga tak ada yang menyangka EPJD mengandung.  Warga baru sadar ketika kematian EPJD (15) pada Selasa (2/7/2019).

Ketika itu, kakek HS mengabarkan bahwa anak angkanya itu meninggal kepada para tetangga. Bakan ia telah memasang tenda dan siap untuk melakukan tahlilan.

Akan tetapi ada suatu hal kecurigaan ketika ditanya penyebab kematian anak itu, dikarenakan pendarahan. "Jadi anaknya sudah dibawa dari rumah sakit Rawalumbu. Sudah dimandiin sudah dipakai kain kafan, sudah siap dikuburkan. Kita enggal curiga awalnya," kata ketua RT setempat Widianto, Kamis (4/7/2019).

Widianto menuturkan ada seorang tetanggnya yang curiga penyebab kematian dikarenakan pendarahan, padahal pendarahan itu kebanyakan terjadi pada orang yang melahirkan.

Bebekal dari rasa curiga, tetangganya yang juga anggota Polri mendatangi rumah sakit tempat anak itu meninggal. Saat ditanya, pihak rumah sakit menjawab anak itu meninggal saat hendak melahirkan anaknya.

"Lah terus mana anaknya, akhirnya balik lagi ke rumahnya, tetangga tanya pastiin ke kakek itu. Setelah didesak benar ternyata mayat bayi itu ada dilantai atas dalam kantong plastik," katanya.

Melihat situasi seperti itu, akhirnya warga menghubungi pihak kepolisian. Kemudian malam itu juga polisi mulai mendatangi kediaman kakek itu.

Bocor Foto Perdana Syahrini & Mertua Pasca 5 Bulan Nikah, Tangan Reino Barack Justru jadi Misteri

Penampakan Rumah Asli Barbie Kumalasari dan Galih Ginanjar, Beda Jauh dengan Rumah Sewaan

Satu Kesalahan Raffi Ahmad buat Nagita Slavina Diam Seribu Bahasa: Nangis Lihat Sisi Lain sang Suami

OOTD Seksi Nia Ramadhani saat Liburan di Amerika, dari Croptop Hingga Rok Belahan, Bak Anak ABG

Akhir Hubungan Barbie Kumalasari dan Galih Ginanjar Diungkap Wirang Birawa, Akan Ada Masalah Besar?

5 Fakta Chat WhatsApp Mesum Soal Organ Intim Viral di Medsos, Dari Biro Jodoh, Diduga Warga Jombang

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved