Malang Raya

Fakta di Balik Kisah Viral Aturan RW di Kota Malang yang Wajibkan Pendatang Bayar Rp 1,5 Juta

Fakta di Balik Kisah Viral Aturan RW di Kota Malang yang Wajibkan Pendatang Bayar Rp 1,5 Juta

Fakta di Balik Kisah Viral Aturan RW di Kota Malang yang Wajibkan Pendatang Bayar Rp 1,5 Juta
Benni Indo
Fakta di Balik Kisah Viral Aturan RW di Kota Malang yang Wajibkan Pendatang Bayar Rp 1,5 Juta. Ketua RW, Ashari, Menunjukkan Lembaran Aturan. 

Fakta di Balik Kisah Viral Aturan RW di Kota Malang yang Wajibkan Pendatang Bayar Rp 1,5 Juta

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Sebuah surat berisi tata tertib (tatib) peraturan di RW 2, Kelurahan Mulyorejo, Sukun, Kota Malang menjadi perbincangan warganet. Pasalnya, di sana tercantum tarif yang nilainya hingga jutaan Rupiah.

Semisal, warga yang pindah dan menetap di RW 2, diharuskan membayar Rp 1,5 juta. Biaya itu sudah termasuk biaya makam. Ada juga permintaan sebanyak 2 persen dari aset warga RW 2 yang terjual.

Warga yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga didenda Rp 1 juta. Jika melakukan perzinaan, didenda Rp 1,5 juta. Ada beberapa denda lagi yang nominalnya mulai dari Rp 50 ribu hingga ratusan ribu.

Di bawah surat tersebut, terdapat tandatangan Ketua RW 2 Ashari. Saat dikonfirmasi, Ashari mengatakan bahwa yang melatarbelakangi adanya surat itu agar kampungnya aman, sehat, harmonis, respon.

Ashari mengangguk dan mengatakan benar saat ditanya apakah surat itu untuk menakuti wargan. Pasalnya, banyak warga yang tidak melapor ke RT atau RW.

"Setelah saya terpilih menjadi RW, ada kejadian yang meresahkan warga. yakni kasus perselingkuhan. Surat itu dibuat berdasarkan kesepakatan para tokoh masyarakat, ketua RT, yang disahkan 14 Juni," ungkapnya.

Ashari menerangkan, untuk biata Rp 1,5 juta pada warga pindahan, rinciannya Rp 1 juta satu keluarga yang digunakan untuk biaya makam. Sedangkan Rp 500 ribu masuk ke kas RT dan RW.

"Itu dari rembukan, sebelum saya menjadi RW Rp 750 dan tidak tertulis," katanya.

Sedangkan soal 2 persen masih menjadi pertentangan. Kata Ashari, ada yang mengusulkan 0,2 persen saja, namun angka itu dinilai terlalu kecil.

Halaman
12
Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved