Kabar Lamongan

Candi Patakan Lamongan Diduga Lebih Tua Dari Situs Sekaran Malang, Temuan Menarik dari Arkeolog BPCB

Penggunaan pasak sebagai pengait antar batu candi bukti adanya kemampuan teknologi yang diterapkan dan dipakai kala itu.

Candi Patakan Lamongan Diduga Lebih Tua Dari Situs Sekaran Malang, Temuan Menarik dari Arkeolog BPCB
suryamalang.com/Hanif Manshuri
Temuan teknologi pasak yang dipakai dan pecahan keramik di Candi Patakan Lamongan. 

SURYAMALANG.COM, LAMONGAN - Ekskavasi tahap ketiga yang dilakukan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Trowulan Jatim di Situs Candi Patakan cukup menarik perhatian Arkeolog BPCB, Wicaksono Adi Nugroho yang terlibat dalam proses penggalian.

Pasalnya, ada banyak temuan yang bisa dijadikan petunjuk dan melengkapi sejarah temuan Candi Patakan ini. Arkeolog BPCB Trowulan Jatim, Wicaksono Adi Nugroho mengungkapkan, salah satu temuan yang menarik itu adalah penggunaan teknologi pasak pada batu candi dan takikan yang juga diterapkan pada bangunan situs Candi Patakan.

Menurutnya, baru di situs Candi Patakan ini ada penerapan teknologi pasak dan takikan pada bangunan candi.
"Tidak pernah ada penggunaan candi semacam ini pada bangunan situs candi lainnya. Baru di situs Candi Patakan ini," kata Wicaksono.

Penggunaan pasak sebagai pengait antar batu candi bukti adanya kemampuan teknologi yang diterapkan dan dipakai kala itu. Batu candi dibuat berlubang di bagian tertentu yang ketika disusun bagian yang berlubang ini kemudian disatukan dengan pasak yang juga terbuat dari batu

"Mirip dengan pasak kayu, tapi kalau yang ini terbuat dari batu," katanya.

Wicaksono menambahkan, selain penggunaan pasak pada candi, situs candi Patakan ini juga membuat takikan atau pengait antar batu candi. Takikan atau pengait ini, adalah salah satu sisi batu candi dibuat menonjol sementara batu yang lain dibuat tekukan yang sama dengan pengait batu sebelumnya.

Temuan batu merah di situs Candi Patakan diduga sebelumnya adalah batu bata, ternyata adalah jenis batu merah dan bukan batu bata.  "Batu merah ini yang kemudian dipadukan dengan batu warna lain sehingga menjadikan candi Patakan ini lebih menarik jika dibandingkan dengan candi-candi lainnya," ungkap Wicaksono.

Selain menemukan penggunaan teknologi tepat guna dan jenis batu merah, juga banyak ditemukan pecahan keramik, uang koin dan juga sarung keris yang terbuat dari perunggu. Kalau diamati pecahan keramik yang ditemukan di sekitar lokasi situs, kebanyakan berasal dari Tiongkok, yaitu masa Dinasti Song pada abad 10.

Temuan - temuan di situs Candi Patakan ini, menurut Wicaksono, memastikan kalau situs ini jauh lebih tua dari masa Majapahit, yaitu pada masa muda Airlangga. Bukti lainnya, adalah temuan prasasti Patakan yang saat ini berada di Museum Nasional Jakarta.

Di prasasti Patakan ini disebut kalau Raja Airlangga pernah berada di Patakan setelah kalah perang untuk kemudian melanjutkan perangnya kembali hingga menang.

Di prasasti Patakan juga disebut kalau wilayah Patakan menjadi sebuah tanah perdikan karena telah membantu Raja Airlangga.

Dipastikan situs candi Patakan jauh lebih tua dari situs Sekaran yang berada di tepi jalan tol Malang - Surabaya atau temuan situs baru yang berada di Jombang."Situs candi Patakan ini lebih tua, karena berasal dari masa muda Airlangga," tutur Wicaksono. 

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved