Malang Raya

Belum Diamankan, Polisi Masih Memburu Pemilik Buaya Viral di Kedungkandang Kota Malang

Polisi hingga kini belum juga menangkap pemilik buaya muara yang sempat viral beberapa hari lalu di Kedungkandang.

Belum Diamankan, Polisi Masih Memburu Pemilik Buaya Viral di Kedungkandang Kota Malang
ist
Seekor buaya yang telah diamankan petugas Polsek Kedungkandang Kota Malang, setelah ketahuan merayap di atas genteng rumah Junaedi, warga Jalan Ki Ageng Gribig RT 02 RW 01, Kedungkandang, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, KEDUNGKANDANG - Polisi hingga kini belum juga menangkap pemilik buaya muara yang sempat viral beberapa hari lalu di Kedungkandang.

Hasil dari penyelidikan sementara, pemilik buaya yang bernama Putra itu dititipi oleh temannya yang berdomisili daerah Bunul, Kota Malang. Saat polisi menelusuri rumah dari pemilik buaya itu, ternyata si pemilik buaya tersebut telah kabur.

Hingga kini, polisi masih belum bisa mengungkap keberadaan dari pemilik asli buaya muara itu. "Saat ini yang dititipi itu telah kami lepaskan. Tapi ia tetep kami kenai wajib lapor," ucap Kapolsek Kedungkandang, Kompol Suko Wahyudi kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (17/7).

Meski demikian, polisi tetap merahasiakan identitas dari pemilik yang mempunyai buaya tersebut. Polisi kini telah menyurati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur terkait buaya tersebut.

"Buaya ini belum memiliki surat secara resmi untuk dipelihara. Maka dari itu soal buaya ini kami serahkan sepenuhnya kepada BKSDA Jatim. Sedangkan untuk proses hukum, petugas masih mencari identitas dari pelaku pemilik buaya tersebut," tandasnya.

Sementara itu Kasubbag Data Evaluasi Pelaporan dan Humas BKSDA Jatim, Gatut Panggah Prasetyo mengatakan, pihaknya kini telah menitipkan buaya tersebut ke Predator Fun Park Kota Batu.

Gatut mengatakan, pemeliharaan satwa liar harus disertai surat izin kepemilikan dan pemanfaat satwa liar. Hal itu sudah diatur dalam peraturan Kementerian Kehutanan nomor 19 tahun 2005 tentang penangkaran.

"Jadi segala sesuatu yang kita kategorikan dalam satwa liar jadi tidak bisa dipelihara secara umum jadi harus ada izin penangkaran yaitu sebagai badan usaha ataupun perorangan," ucapnya.

Gatut menambahkan, semua satwa yang dilindungi maupun tidak dilindungi itu bisa dimanfaatkan dengan cara mengajukan izin penangkaran. Kemudian membuat surat pengajuan melalui berita acara pemeriksaan.

Orang yang akan memelihara satwa liar tersebut juga harus memiliki spesifikasi khusus. "Spesifikasi khusus misalkan dia sudah punya kandang, sudah punya keahlian untuk merawat, kemudian dia punya tenaga ahli kesehatan, apa dia sudah punya perencanaan sampai dengan 5 tahun kedepan itu seperti apa dan itu harus tertuang dengan jelas," ujarnya.

Apabila orang yang dengan sengaja memilihara satwa liar tanpa membuat surat pengajuan, maka ia akan dikenai sanksi pidana yang telah tertuang dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 yang sanksinya didenda Rp 100 Juta atau kurungan selama 5 tahun penjara.

"Untuk proses hukum kami serahkan semua ke Polisi. Karena kasusnya kini telah diproses oleh Polsek Kedungkandang," tandasnya.

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved