Kabar Trenggalek

Jaksa Trenggalek Tahan Bos Media di Surabaya Terkait Dugaan Korupsi

PDAU telah menyetorkan dana Rp 7,1 miliar ke PT BGS. Lulus melanjutkan, Rp 5,9 dari dana itu ditransfer ke Tatang untuk membeli mesin cetak.

Jaksa Trenggalek Tahan Bos Media di Surabaya Terkait Dugaan Korupsi
ist
Jaksa Trenggalek akhirnya menahan Tatang Istiawan Witjaksono, tersangka kasus korupsi penyimpangan penyertaan modal dalam usaha percetakan pada Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Trenggalek, Jumat (19/7/2019). 

SURYAMALANG.COM, TRENGGALEK - Jaksa Trenggalek akhirnya menahan Tatang Istiawan Witjaksono, tersangka kasus korupsi penyimpangan penyertaan modal dalam usaha percetakan pada Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Trenggalek, Jumat (19/7/2019).

Direktur PT Bangkit Grafika Sejahtera (BGS) sekaligus bos salah satu media di Surabaya itu ditahan setelah tim dokter RSUD dr Soedomo menyatakan kondisinya stabil.

"Sore hari tadi, sekitar pukul tiga, yang bersangkutan dinyatakan stabil sehingga bisa kami laksanakan tindakan penahanan," kata Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Trenggalek Lulus Mustofa.

Tatang dibawa ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kabupaten Trenggalek sekitar pukul 19.00 WIB.

Ia datang mengenakan jaket cokelat dengan tangan bekas tanda suntikan. Setelah turun dari mobil kejaksaan, ia buru-buru masuk ke Rutan. Ia tak berkomentar sedikit pun ketika ditanya tentang kasus yang tengah menjeratnya.

Lulus menjelaskan, penahanan terhadap Tatang sebenarnya telah direncanakan pascapemeriksaan, Kamis (18/7/2019). Namun, jaksa harus menunggu hasil pemeriksaan oleh petugas kesehatan.

"Pendapat tim dokter harus rawat karena yang bersangkutan punya penyakit jantung dan gula daranya tinggi," tambah Lulus.

Diberitakan sebelumnya, perusahaan Tatang di Surabaya bersama Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kabupaten Trenggalek membentuk perusahaan percetakan PT BGS di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek.

PT BGS dibentuk pada 2008 dengan modal dasar Rp 8,9 miliar. Sebagai pemilik saham sekitar 20 persen, perusahaan Tatang harusnya menyetor Rp 1,7 miliar. Namun, kata Lulus, uang tersebut tak pernah disetor ke PT BGS.

Sementara PDAU telah menyetorkan dana Rp 7,1 miliar ke PT BGS. Lulus melanjutkan, Rp 5,9 dari dana itu ditransfer ke Tatang untuk membeli mesin cetak.

"Mesin cetak yang dibeli dalam keadaan rusak," tambah dia, Kamis (18/7/2019).

Lulus melanjutkan, Pemkab Trenggalek menganggarkan Rp 1 miliar untuk biaya operasional PT BGS pada 2009. Sebagian dari uang itu menjadi temuan auditor.

"Total kerugian negara dari kasus ini sebesar Rp 7,3 miliar," ungkapnya.
Tatang dijerat pasal (2) dan (3) Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

"Untuk pasal 2 ancaman hukumannya pidana penjara seumur hidup paling lama 20 tahun, paling singkat 4 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta, paling banyak Rp 1 miliar," tutur dia.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved