Kabar Surabaya

Industri Kertas di Jatim Terancam Berhenti, Setelah 305 Kontainer Bahan Baku Tertahan di Pelabuhan

Penahanan kontainer berisi waste paper impor tersebut dilarang masuk ke Jawa Timur dan Indonesia lantaran gerakan re-ekspor sampah impor KLHK.

Industri Kertas di Jatim Terancam Berhenti, Setelah 305 Kontainer Bahan Baku Tertahan di Pelabuhan
SURYAMALANG.COM/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke Pabrik Kertas Indonesia, beberapa waktu yang lalu. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Keberlangsungan operasional industri kertas di Jawa Timur bisa dibilang sedang terancam. Hal ini setelah ratusan kontainer bahan baku industri kertas di Jatim tengah tertahan di pelabuhan Tanjung Perak.

Penahanan kontainer berisi waste paper impor tersebut dilarang masuk ke Jawa Timur dan Indonesia lantaran gerakan re-ekspor sampah impor yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Setidaknya ada 305 kontainer bahan baku waste paper milik industri di Jawa Timur yang tertahan dan tidak bisa  lolos bea cukai pelabuhan. Yang akhirnya terdampak pada produksi industri kertas hingga banyaknya tenaga kerja pemilah sampah yang akhirnya harus berhenti bekerja.

Kondisi ini disikapi serius oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Pihaknya kini sedang mengupayakan komunikasi dengan KLHK dan juga Kementerian Perindustrian agar bisa memberikan solusi pada penahanan kontainer berisi bahan baku industri kertas di Jatim.

"Persoalannya adalah ketika sampah kertas diimpor itu ada ikutan plastiknya, akhirnya per tanggal 20 Juni 2019 lalu sampah kertas yang diimpor itu akhirnya harus di re-ekspor," kata Khofifah, Jumat (19/7/2019).

"Maka rata-rata hari ini pabrik kertas di Jawa Timur yang bahan bakunya menggunakan sampah kertas, bahan bakunya makin menipis. Termasuk pabrik yang kita kunjungi awal pekan kemarin ternyata bahan bakunya sekitar bertahan sampai 10 hari kedepan," lanjutnya.

Sedangkan informasi yang diterima Pemprov Jatim sebanyak 305 kontainer bahan baku waste paper yang tertahan di Tanjung Perak dan potensi untuk di re ekspor.

"Nah ini menjadi PR kami untuk mengkoordinasikan dengan Kementerian LHK dan Kementerian Perindustrian. Harus ada solusi karena bahan baku waste paper menurut kami itu ramah lingkungan, terutama pilihan lain kalau tidak pakai kertas daur ulang untuk membuat kertas ya pakai pulb, kan lebih tidak ramah lingkungan," tegas Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini menegaskan, semua pasti menolak impor sampah plastik. Tetapi kemudian impor sampah kertas yang menjadi bahan baku pabrik kertas kemudian menjadi tertahan juga bukan solusi yang baik untuk jalannya industri kertas di Indonesia. Terlebih industri kertas di Jatim menyuplai 40 persen produksi kertas nasional.

"Oleh karena itu harus segera dicari solusi supaya industri kertas di Indonesia lebih khusus industri kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas bekas itu tidak berhenti beroperasi," tegas Khofifah.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved