Breaking News:

Kabar Pamekasan

Ribuan Foto dan Video Intim Ditemukan, Tercatat 50 Anak Jadi Korban, Pelaku Kejahatan dari Pamekasan

Ribuan Foto dan Video Intim Ditemukan, Terlacak Ada 50 Anak Jadi Korban, Pelaku Kejahatan dari Pamekasan

Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Fat
ILUSTRASI 

"Ternyata si TR juga diperiksa terkait kasus itu ya ditetapkanlah sebagai tersangka," tambahnya.

Hanafi juga meluruskan, perbuatan TR itu terkait kasus pencabulan anak melalui media sosial dimulai sejak awal tahun 2017.

Saat itu, TR belum dilimpahkan ke Lapas Klas II Pamekasan.

"Jadi jangan salah tafsir seakan-akan pemberitaan di media, kasusnya itu dimulai ketika sudah di lapas Pamekasan. Dia masuk ke lapas Pamekasan itu Bulan Maret 2018 sesuai putusan pengadilan negeri," tegas Hanafi.

"Sedangkan mulai pembuatan akunnya itu berdasar pengakuan TR sejak tahun 2017 ketika sebelum masuk ke lapas sini. Kasusnya sama seperti apa yang ditangani oleh Polres Pamekasan saat itu, ya kasus pencabulan anak melalui media sosial," sambungnya

Hanafi juga mengatakan, saat TR diperiksa oleh Tim Cyber Mabes Polri ternyata akunnya masih hidup dan digunakan dengan modus yang sama.

"Jadi tolong berita ini diluruskan. Kami sebagai petugas Lapas Pamekasan terkesan tertuduh," harap Hanafi.

Sedangkan diakui Hanafi, modus yang dilakukan oleh TR untuk mengelabui korban, yakni dengan cara membuat akun palsu dengan identitas sebagai seorang guru untuk menyasar korbannya.

Kemudian, TR pun berpura-pura akan memberikan nilai tambahan untuk merayu korban agar melakukan tindakan asusila.

Lalu korban akan merekam tindakan asusila dan dikirim melalui pelaku.

"Terkait dikirim melalui akun apa saya juga tidak mengetahui. Semua yang tahu ya dari Tim Cyber Mabes Polri," kata Hanafi.

Terkait aksi TR yang diduga juga dilakukan melalui ruang sel Lapas Klas IIA Pamekasan, Hanafi menegaskan tidak mengetahuinya.

"Terkait itu saya belum tahu. Arsip digital tidak bisa kami ketahui untuk mengatakan itu takut salah," terang Hanafi.

Sebab kata Hanafi, saat TR dijemput di Lapas Pamekasan oleh Tim Cyber Mabes itu tidak membawa handphone.

"Bukan kapasitas saya dalam menafsirkan terkait data digital itu kewenangannya tim Cyber Mabes Polri," tutupnya. (Kuswanto Ferdian)

Kalapas Pamekasan, Hanafi
Kalapas Pamekasan, Hanafi (Kuswanto Ferdian)

Kisah Awal

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri meringkus pelaku pencabulan anak berinisial TR (25) melalui media sosial atau grooming.

Tersangka merupakan narapidana yang sedang menjalani hukuman akibat kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Ia baru menjalani vonis 2 tahun dari putusan 7 tahun 6 bulan penjara.

Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Asep Safrudin, mengatakan pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Saat itu, KPAI melaporkan ada guru yang mengadu akun media sosialnya dipalsukan.

Berdasarkan laporan tersebut, kepolisian pun bergerak untuk melakukan pelacakan.

Berdasarkan hasil penyelidikan, ternyata TR yang membuat akun palsu yang serupa dengan guru tersebut.

Ia membuat akun palsu dengan mengambil foto seorang guru di akun Instagram.

Kemudian pelaku membuat akun baru dengan mengatasnamakan guru tersebut.

"Tersangka melakukan profiling, ibu guru x ini follower-nya di IG ada berapa banyak, yang anak-anak ada berapa banyak, kemudian setelah tersangka mendapatkan akun anak, di-follow sehingga anak ini jadi followers akun palsu," ujar Asep, di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

Kemudian, tersangka mulai menghubungi para murid guru tersebut via Direct Message (DM) untuk meminta nomor WhatsApp dari masing-masing korban.

Setelahnya, kata Asep, tersangka meminta para korban melakukan sejumlah perintah tertentu hingga mengirim foto atau video cabul melalui aplikasi percakapan WhatsApp itu.

"Setelah berkomunikasi, tersangka memerintahkan ke anak untuk melakukan kegiatan untuk melakukan apa yang diperintahkan. Apa yang diperintahkan? Yaitu membuka pakaian kemudian lebih dari itu si anak disuruh menyentuh organ intim," ucapnya.

Menurutnya, dari penelusuran tim Siber Bareskrim ada 50 anak yang telah berhasil diidentifikasi menjadi korban.

Namun masih banyak pula yang belum teriidentifikasi. 

Alasannya, ada lebih dari 1.300 foto dan video cabul yang dimiliki oleh tersangka.

"Hasil penelusuran lebih dari 1.300 dalam akun email-nya tersangka ada 1.300 foto dan video, semua anak tanpa busana, yang sudah teridentifikasi ada 50 anak dengan identitas berbeda," tandasnya.

Atas perbuatannya, kepolisian menjerat tersangka dengan Pasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 29 UU Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pornografi dan Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar. (Tribunnews)

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved