Breaking News:

Citizen Reporter

Benarkah Wanita Berjilbab Berpotensi Kekurangan Vitamin D? Inilah Ringkasan Hasil Riset

Hardisman Dasman, Associate Professor in Community Medicine and Healthcare Policy, Universitas Andalas

Editor: yuli
pixabay/Afik_eleck
ILUSTRASI 

Ketakutan berlebihan terhadap kolesterol dan lemak sehingga sangat membatasi makanan tersebut sekaligus berdampak terhadap defisiensi vitamin D. Inilah risiko utama yang terjadi pada masyarakat modern saat ini. Akibat ketakutan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, lalu menghindari makanan-makanan sumber lemak, yang dapat menjadi faktor kurangnya vitamin-vitamin terlarut dalam lemak, termasuk vitamin D.

Begitu juga halnya dengan penyakit-penyakit yang terkait dengan sistem organ yang terkait dengan produksi vitamin D.

Sumbatan batu empedu yang menyebabkan terganggunya produksi asam empedu ke dalam saluran cerna dan gangguan penyerapan lemak, sekaligus akan menyebabkan terganggunya penyerapan vitamin D dalam saluran cerna.

Kekurangan paparan cahaya matahari jelas menjadi faktor risiko kekurangan vitamin D. Makin sedikit waktu terpapar cahaya matahari makin berisiko kurangnya produksi vitamin D. Begitu juga makin kurangnya paparan cahaya matahari ke kulit, makin rendah produksi vitamin D. Semua ini merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya kekurangan vitamin D di tubuh.

Tapi melihat adanya faktor-faktor lain (perilaku menghindari paparan cahaya matahari dan pola makan) yang bisa menyebabkan kekurangan vitamin D, saya katakan dengan jelas bahwa berjilbab tidak menjadi faktor risiko kekurangan vitamin D yang utama. theconversation.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved