Kabar Tulungagung

Fenomena LSL Di Tulungagung Dapat Respon Dengan Baik, KPA: Mengalahkan Respon Fenomena LGBT

Fenomena LSL tidak perlu ditutup-tutupi. Sebab jika ditutupi justru akan semakin menyebar dan tidak pernah ada solusi.

Fenomena LSL Di Tulungagung Dapat Respon Dengan Baik, KPA: Mengalahkan Respon Fenomena LGBT
America Magazine
ILUSTRASI. LSL (Laki-laki Seks Laki-laki) 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Pelaksana Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung, Ifada Nur Imaniar bersyukur, fenomena laki-laki seks laki-laki (LSL) mendapat respon luas. Bahkan menurutnya, baru kali ini salah satu fenomena penyumbang angka HIV ini direspon secara komprehensif.

Sebelumnya, Ifada dan kawan-kawan pernah mengungkap fenomena LGBT di Tulungagung. Saat itu hanya sejumlah sekolah Islam dan gereja yang merespon.

Namun saat fenomena LSL di usia pelajar diungkapkan, semua pihak terkait memberikan respon. “Mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan semua pihak yang terkait, semua merespon fenomena ini,” ungkap Ifada, Rabu (24/7/2019).

Menurutnya, fenomena LSL tidak perlu ditutup-tutupi. Sebab jika ditutupi justru akan semakin menyebar dan tidak pernah ada solusi.

Fenomena ini harus direspon bersama, agar tidak meluas dan ada pendampingan bagi anak yang terdeteksi LSL. “Faktanya LSL itu memang ada, dan itu tidak bisa dipungkuri,” ucap Ifada.

Diakui Ifada, ada pihak yang kurang senang saat fenomena ini diungkap. Pihak yang disebutnya ini bukan dari kalangan LSL maupun LGBT.

Dua kelompok ini malah mendukungnya, dalam konteks pengendalian HIV. “Belum-belum sudah ada yang menyatakan, pihak kami tidak ada LSL. LSL itu fenomena tertutup, tahu dari mana kalau tidak ada LSL?” keluh Ifada.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, M Mastur mengatakan, semua pihak terkait sudah melakukan koordinas di kantornya, hari ini.

Semua OPD yang punya fungsi pengasuhan anak, sepakat mengintegrasikan dan mengintensifkan program sehingga menjadi satu kerangka yang utuh.

“Jadi Dinkes tugasnya apa, Kemenag tugasnya apa, Dinsos tugasnya apa, Dinas Pendidikan tugasnya apa, saling melengkapi sehingga programnya utuh, dan tidak tumpang tindih” ujar Mastur.

Lanjutnya, langkah pertama yang akan dilakukan adalah dengan mengaktifkan dan mengintensifkan Forum Anak Desa. Sehingga anak-anak di desa punya kegiatan positif, dan tidak terjerumus dalam kegiatan seksual menyimpang.

Kemudian Kemenag dan Dinas Pendidikan akan memperkuat peran guru, agar lebih tajam mendeteksi anak yang punya kecenderungan LSL. Sementara kurikulum soal reproduksi, akan ditambahi porsinya sesuai umur anak.

“Peran keluarga harus diberdayakan, untuk meningkatkan peran ayah dan ibu. Kami sudah melakukan pelatihan parenting di beberapa desa,” pungkas Mastur.

Hasil penjaringan di tujuh kecamatab dari 19 kecamatan di Tulungagung, ditemukan 498 pelaku LSL. Dari jumlah itu, 60 persen di antaranya adalah usia pelajar, dari 11 tahun hingga 20 tahun. Hasil tes HIV 175 orang dari 498 temuan LSL itu, 21 orang di antaranya positif HIV. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved