Universitas Brawijaya Malang

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UB Malang Kerahkan 498 Mahasiswa Pantau Kesehatan Hewan Kurban

drh Hildasari, Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang menyatakan pelibatan ratusan mahasiswa FKH UB...

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UB Malang Kerahkan 498 Mahasiswa Pantau Kesehatan Hewan Kurban
Sylvianita Widyawati
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB) Malang mengalungkan name tag untuk mahasiswa yang akan menjalankan tugas sebagai pemeriksa kesehatan hewan kurban, Senin (5/8/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB) Malang akan mengerahkan 498 mahasiswa S1 untuk memantau kesehatan hewan kurban. Selain itu juga melibatkan 270 orang yang sedang melaksanakan pendidikan profesi dokter hewan, dosen 38 orang dan 270 co ass.

"Selain memantau di Malang Raya, Mojokerto, tahun ini juga ditambah dengan Lamongan, Blitar dan Pasuruan," jelas Wakil Dekan I FKH UB drh Dyah Ayu Oktavianie MBiotech pada suryamalang.com di sela workshop di Gedung Kebudayaan Mahasiswa UB, Senin (5/8/2019). Mereka akan dilibatkan dinas terkait yaitu dinas pertanian atau dinas peternakan pada H-1 dan pada hari H.

Agar jangkauannya meluas, bagi mahasiswa yang ingin melaksanakan pemeriksaan di daerahnya bisa juga. Tapi dengan cara bergabung dengan dinas terkait. Untuk itu, mereka harus melaporkan ke FKH dan diberi surat keterangan. Sedang sistem pelaporannya bisa lewat online dan disertai foto kegiatan. "Dengan begitu, kami bisa memantau kesehatan hewan kurban lebih luas," kata Dyah.

Hal ini dilakukan karena mahasiswa FKH UB tak hanya dari Malang tapi juga ada dari luar Jawa. Sedang untuk wilayah Malang Raya, diperkirakan lebih dari 120 titik. Dikatakan, dari hasil pemeriksaan hewan kurban jika ditemukan hewan betina, maka bisa direkomendasikan tidak disembelih karena hewan produktif. Dalam workshop itu, tim pemeriksa kesehatan hewan kurban dibekali banyak infomasi. Seperti penyembelihan yang syar'i, cara menangani hewan kurban dll.

Sedang drh Hildasari, Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang menyatakan pelibatan ratusan mahasiswa FKH UB pada H-1 dan hari H.

"Untuk pemantauan hewan kurban yang dijual masyarakat, kami akan memantau sendiri mulai besok, Selasa (6/8/2019) hingga empat hari kedepan," jelas Hildasari pada suryamalang.com di sela acara. Untuk itu, hewan kurban yang sehat akan diberi stiker. Bekal ini diharapkan jadi referensi bagi calon pembeli.

Untuk melihat kesehatan hewan secara fisik bisa kasat mata. Biasanya bulunya mengkilat atau tidak kusam, tidak ada benjolan di kaki.

"Kalau sehat, kakinya mulus. Kalau ada benjolan berarti memiliki penyakit menular," kata Hilda. Selain itu, hewan sehat matanya akan cemerlang. Dikatakan, hewan kelihatan sakit biasanya nampak. "Terlihat lesu di antara kelompoknya, malas makan, anusnya kotor karena diare," katanya.

Pembeli juga harus mengecek lubang-lubang di hewan kurban. "Kalau ada darah keluar, biasanya kena antrax," jelasnya. Biasanya pihaknya menyarankan ke penjual agar hewan yang sakit dijauhkan dari hewan sehat. Sedang dari pembeli juga harus hati-hati saat memilih hewan kurban. Sementara itu, jumlah titik penyembelihan dan jumlah hewan kurban baru diketahui mendekati pelaksanaan.

Karena mungkin ada juga panitia di masjid atau tempat yang tidak melaporkan. Namun pihaknya sudah menyosialisasikan pada Juli 2019 lalu ke kelurahan-kelurahan dengan menyebarkan form. Sehingga bisa diketahui berapa titik lokasi penyembelihan hewan kurban dan jumlah hewan kurban.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved