Kabar Kediri

Limbah Jayu Jati dan Trembesi Jadi Aneka Perabot Artistik, Ada yang Seharga Rp 60 Juta

"Sayang kalau bonggol kayu jati hanya untuk kayu bakar. Kemudian kami meminta tukang ukir membuatnya menjadi benda seni seperti yang ada di galeri"

Limbah Jayu Jati dan Trembesi Jadi Aneka Perabot Artistik, Ada yang Seharga Rp 60 Juta
didik mashudi
Koleksi galeri seni ukir dan lukisan milik Bambang Gunawan di Ruko Hayam Wuruk, Kota Kediri. 

"Sayang kalau bonggol kayu jati hanya untuk kayu bakar. Kemudian kami meminta tukang ukir membuatnya menjadi benda seni seperti yang ada di galeri kami," jelas Bambang Gunawan.

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Sejumlah ukiran kayu jati dengan bentuk artistik menghiasi galeri seni milik Bambang Gunawan. Ada puluhan item hasil karya seni ukiran kayu dan lukisan yang dipajang di geleri Ruko Hayam Wuruk, Kota Kediri.

Bahan dasar dari ukiran kayu untuk perabot rumah tangga itu memanfaatkan bahan dari limbah bonggol kayu jati, bonggol kayu trembesi dan kayu mahoni.

"Kami mengambil bahan bonggol kayu jati dari daerah Bojonegoro. Kayunya ditebang, bonggolnya yang dibongkar kami manfaatkan," ungkap Bambang Gunawan kepada tribunjatim, Senin (5/8/2019).

Bonggol kayu jati itu banyak terdapat di wilayah Bojonegoro dan tidak begitu dimanfaatkan. Malahan sebagian warga ada yang memanfaatkan untuk kayu bakar.

"Sayang kalau bonggol kayu jati hanya untuk kayu bakar. Kemudian kami meminta tukang ukir membuatnya menjadi benda seni seperti yang ada di galeri kami," jelas Bambang Gunawan.

Beberapa koleksi ukiran artistik seperti kepala singa dan patung singa yang terbuat dari kayu jati berusia puluhan tahun. Ada pula bangku kayu jati dengan diameter hampir satu meter yang dibuat untuk kursi bangku panjang.

Koleksi lainnya bangku dari batang kayu jati berukuran besar, lemari bonggol kayu jati, perabot meja dan kursi dari bonggol kayu jati.

Bambang menyebutkan harga bahan dasar dari bonggol kayu jati dibelinya dengan harga sangat murah. Namun setelah diolah menjadi benda seni ukiran, nilainya menjadi bertambah.

"Karena menjadi barang seni sekarang tentu ada nilainya. Kami membiarkan bonggol kayu jati utuh, kemudian diukir tidak ada kayu bolong yang ditambal," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Didik Mashudi
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved