Citizen Reporter

Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

Khalifah Kordoba Abdurrahman III pada abad kesepuluh emutuskan untuk menghitung jumlah hari ia merasa bahagia. Ia menghitung hanya ada 14 hari.

Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?
flickr/repolco
ILUSTRASI HAREM 

Tokoh-tokoh dalam novel Brave New World karya Aldous Huxley hidup bahagia dengan bantuan “soma”, obat yang membuat mereka patuh tetapi damai.

Dalam novel tersebut, Huxley menyiratkan bahwa manusia yang bebas pasti tersiksa oleh emosi-emosi yang menyulitkan. Kalau pilihannya antara siksaan emosional atau damai dalam diam, saya rasa orang akan memilih yang kedua.

Tetapi “soma” tidak nyata; jadi masalahnya bukan karena mencapai kepuasan yang menenangkan lewat bahan kimia itu melanggar hukum, tapi karena cara itu tidak mungkin.

Bahan kimia mengubah keadaan pikiran (kadang-kadang bisa bermanfaat), tetapi karena kebahagiaan tidak bisa dikaitkan dengan pola fungsional otak tertentu, maka kebahagiaan tidak bisa dibuat secara kimiawi.

Bahagia dan tidak bahagia

Perasaan-perasaan kita itu campur aduk, tidak jernih, berantakan, kusut, dan terkadang bertentangan; persis seperti hidup kita.

Penelitian telah menunjukkan bahwa emosi positif dan negatif relatif bisa muncul berdampingan di dalam otak. Model ini menunjukkan bahwa belahan otak sebelah kanan cenderung memproses emosi negatif, sedangkan yang kiri menangani emosi positif.


Maka patut diingat, bahwa kita tidak dirancang untuk bisa bahagia terus-menerus. Sebaliknya, kita dirancang untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Karena tugas yang sulit inilah kita ditakdirkan untuk terus berusaha dan berjuang, mencari kepuasan dan keamanan, melawan ancaman dan menghindari rasa sakit.

Emosi-emosi saling bersaing dan menghadirkan kenikmatan serta kesakitan secara berdampingan; ini model yang lebih cocok dengan kenyataan hidup kita.

Kebahagiaan semu yang coba dijual oleh industri tidak pas untuk kita. Bahkan, menganggap rasa sakit, seberapapun kecil atau besarnya, sebagai sesuatu yang abnormal atau penyakit, justru akan menumbuhkan perasaan lemah dan frustrasi.

“Tidak ada yang namanya kebahagiaan” mungkin terdengar negatif. Tapi, setidaknya kita tahu bahwa ketidakpuasan bukanlah karena kegagalan kita.

Jika kita kadang-kadang tidak bahagia, itu bukan kekurangan yang harus diatasi segera, seperti yang dianjurkan “guru-guru ilmu bahagia”. Ketidakpastian itulah yang menjadikan kita manusia. The Conversation

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved