Kota Batu

Pertanian di Kota Batu Harus Organik

Pemkot Batu terus mengerahkan tenaga agar mayoritas petani di Kota Batu bisa bercocok tanam dengan tanaman organik.

Pertanian di Kota Batu Harus Organik
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Kunjungan dari mahasiswa antar negara di Kampung Ekologi tahun 2018. Mahasiswa ini berkunjung sekaligus mempelajari bagaimana menanam sayuran organik di salah satu lahan petani di Kampung Ekologi, Kelurahan Temas, Batu. 

SURYAMALANG.COM, BATU – Pemkot Batu melalui Dinas Pertanian terus menekan pemakaian bahan kimia dalam pertanian. Kini, Pemkot Batu mendorong agar pertanian organik menjadi pilihan utama petani di Kota Batu.

Sekretaris Dinas Pertanian Kota Batu, Hendry Suseno menerangkan, Pemkot Batu memiliki konsep pertanian ramah lingkungan, yakni pertanian organik. Saat ini, sudah ada 18 kelompok tani yang mengembangkan pertanian organik.

Ke depan, Pemkot Batu terus mengerahkan tenaga agar mayoritas petani di Kota Batu bisa bercocok tanam dengan tanaman organik.

Dijelaskan Hendry, tujuan digalakkannya pertanian organik ini untuk menunjang kesehatan masyarakat. Selain itu, secara ekonomis, pertanian organik juga menguntungkan.

“Hasil pertanian organik harganya cukup stabil, sehingga tidak terlalu berdampak pada fluktuasi harga di pasar,” katanya, Selasa (6/8/2019).

Diakui Hendry, saat ini masih ada petani yang menggunakan bahak kimian. Ia berharap, para petani bisa beralih dan menggunakan bahan yang sepenuhnya berasal dari bahan organik.

Sekretaris Dinas Pertanian Kota Batu, Hendry Suseno
Sekretaris Dinas Pertanian Kota Batu, Hendry Suseno (Benni Indo)

“Bukan hal mudah, tapi terus kami lakukan. Petani juga bisa semangat. Kami lagi cari solusi pasarnya. Kami hubungkan ke Transmart, perusahaan daerah. Melalui, semacam outlet organik di kantor kedinasan juga,” ujar Hendry.

Dijelaskan Hendry, pertanian organik saat ini bukan hanya semangat nasional, tapi juga dunia. Oleh sebab itu, Pemkot Batu juga turut ambil bagian dalam perubahan dunia.

“Semangat itu direspons oleh Batu. Kami galakkan melalui pelatihan dan pendampingan. Sosialisasi, terus ada studi banding serta bantuan. Bantuannya berupa sarana produksi seperti pupuk organik, obat pestisida hayati dan bibit,” jelasnya.

Dijelaskan Hendry, dari 20 ribu Ha wilayah Kota Batu, 60 persennya adalah hutan yang dikelola Perhutani. Kemudian 20 persen petanian dan sisanya adalah kawasan hunian, wisata, perkantoran dan industri. 

Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved