Breaking News:

Citizen Reporter

Siasat Mengatasi Dampak Musim Kering Berkepanjangan pada Sektor Pertanian dan Perkebunan

Kemampuan tanah menyimpan air lebih lama dan banyak akan meningkat pada tanah yang permukaannya tertutup rapat vegetasi dan memiliki bahan organik..

Editor: yuli
david yohanes
SAWAH KEKURANGAN AIR - Musim kemarau mulai berdampak pada tanaman padi di Tulungagung. Puluhan hektar sawah kesulitan air dan terancam gagal panen. Paling banyak sawah yang kekurangan air ini berada di Kecamatan Besuki dan Bandung. 

Kemarau dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling terkait yaitu suhu, karakteristik hujan, angin, kelembapan udara dan waktu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menunjukkan ada lima fenomena yang mempengaruhi keragaman iklim/musim di Indonesia.

Dua fenomena utama adalah El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang bersumber dari wilayah Ekuator Pasifik Tengah dan Indian Ocean Dipole (IOD) atau Nino India bersumber dari wilayah Samudera Hindia barat Sumatra hingga timur Afrika. El Nino terjadi akibat memanasnya suhu permukaan laut di samudera Pasifik sehingga memicu musim kemarau yang panjang.

Fenomena regional juga berpengaruh terhadap musim kemarau seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone, ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

Perubahan iklim juga mempengaruhi pola, intensitas, dan jumlah curah hujan. Sebuah riset yang menganalisis data cuaca selama 30 tahun di negeri ini menunjukkan rata-rata suhu udara minimum dan maksimum di seluruh negeri ini telah meningkat dari 0,18  sampai 0,30 °C  per dekade.

Walau peningkatan ini masih di bawah ambang batas peningkatan suhu yang berbahaya di atas 2°C, fakta itu cukup mengkhawatirkan. Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panas dibanding tahun lalu.

Meskipun di beberapa daerah jumlah dan intensitas curah hujan (sewaktu musim hujan) meningkat selama 10 tahun terakhir, tapi banyaknya curah hujan berkurang disertai meningkatnya jumlah hari kering yang berlangsung secara berturut-turut (4,2 hari).

Masalah kekeringan makin rumit karena banyak petani dan perusahaan membuka lahan dengan cara tebang dan bakar di Indonesia, terutama pada lahan basah dengan vegetasi alami pada hutan rawa-gambut seperti di Riau, Sumatra Selatan, Jambi dan Kalimantan. Praktik pembakaran hutan rawa-gambut dilakukan pada musim kemarau, saat itu air surut dan tanaman mengering.

Ketika kekeringan lahan terutama pada gambut melanda, akan memicu api besar dan akan cepat merambat serta meluas.

Kebakaran lahan hutan gambut di Sumatra pada 1997-1998 telah menghanguskan hutan hingga 11 juta hektare yang merusak ekosistem dan menghancurkan biodiversitas yang ada di sana.

Setelah kekeringan dan kebakaran melanda lahan gambut, maka sulit untuk dipulihkan lagi fungsinya sebagai penyimpan cadangan air dan lapisan bahan organik tanah akan menipis bahkan musnah.

Tampaknya selain faktor alam, manusia juga berkontribusi pada terjadinya kemarau karena pembakaran lahan gambut dan perilaku yang mendorong perubahan iklim yang makin panas.

Kini kita merasakan dampaknya: kekeringan pada saat curah hujan sedikit dan banjir pada saat surplus hujan.The Conversation The Conversation

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved