Selebrita

Adaptasi Novel Bumi Manusia ke Layar Lebar di Mata Sastrawan Jatim dan Personel Silampukau

Novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia yang sempat dilarang beredar zaman Orde baru, kini diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Hanung

Adaptasi Novel Bumi Manusia ke Layar Lebar di Mata Sastrawan Jatim dan Personel Silampukau
Instagram Falcon Pictures
Behind the scene film Bumi Manusia. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia yang sempat dilarang beredar pada zaman Orde baru, kini diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Hanung Bramantyo. Sesuai jadwal, film ini akan mulai diputar di bioskop pada 15 Agustus 2019.

Jalan terjal adaptasi novel Bumi Manusia ke layar lebar sudah dirintis bertahun-tahun yang lalu. Mula-mula adalah sutradara Hollywood, Oliver Stone, yang berkeinginan memproduksi film ini. Namun, niatan ini hanyalah rencana tanpa eksekusi.

Lalu muncul nama duo Mira Lesmana dan Riri Riza yang juga ingin menggarap film Bumi Manusia. Senasib dengan Oliver Stone, Mira dan Riri pun gagal mengadaptasi novel Bumi Manusia ke dalam film. Hingga pada akhirnya Hanung Bramantyo-lah yang berkesempatan menggarap film ini melalui rumah produksi Falcon Pictures.

Hanung Bramantyo memilih Iqbaal Ramadhan memerankan protagonis utama, Minke, dan Mawar Eva de Jongh berperan sebagai Annelies. Sebelumnya, Iqbaal Ramadhan memerankan tokoh Dilan dalam film 1990. Sedangkan Mawar Eva juga sering main di beberapa film, salah satunya adalah London Love Story.

Nah, berawal dari pemilihan aktor yang dilakukan Hanung Bramantyo, yang dianggap ‘ceroboh’ oleh khalayak umum—khususnya pecinta sastra yang menggandrungi buku-buku Pram, kemudian muncul pesimisme: Bisakah Iqbaal dan Mawar memerankah tokoh dalam film sesuai dengan latar kolonialisme 1900-an seperti yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer?

Sastrawan Jawa Timur, S Jai, mengatakan bahwa sutradara film pasti memiliki pertimbangan ketika menentukan aktor untuk produksi filmnya. Pertimbangan ini salah satunya adalah mengenai pasar, yakni film Bumi Manusia, barangkali, ingin menggapai pasar dari generasi milenial, di luar pasar lainnya.

“Hanung setahu saya pasti memiliki pertimbangan pasar yang besar, apalagi untuk film yang diadaptasi dari novel sejarah macam Bumi Manusia,” ucap S Jai, Jumat (9/8/2019).

S Jai yang pernah menerima Penghargaan Seni Gubernur Jatim 2015 ini mengatakan, film tidak sekompleks novel karena terbentur durasi dan beda pengayaan antara bahasa teks dengan bahasa gambar (visual). Hal ini, lanjutnya, juga bakal terjadi dalam film Bumi Manusia, dan tentu saja pada novel lainnya yang diadaptasi ke dalam film.

“Persoalan dalam adaptasi (novel ke film) adalah bila novelnya jelek maka menjadi tantangan bagi sutradara untuk membuat filmnya menjadi bagus. Sebaliknya, bila novelnya bagus, maka menjadi beban bagi sutradara, bisakah dia mengadaptasi novel bagus menjadi film yang berkualitas bagus pula?” tegas S Jai.

Sekadar diketahui, novel Bumi Manusia ditulis Pramoedya ketika dipenjara di Pulau Buru pada tahun 1975. Bumi Manusia merupakan jilid pertama dari roman Tetralogi Buru, tiga jilid lainnya adalah Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Novel ini sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa asing di dunia. Dari fakta ini, bisa diketahui betapa dahsyat daya tarik novel ini di mata para pembaca.

Halaman
12
Penulis: Eko Darmoko
Editor: Dyan Rekohadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved