Kabar Sidoarjo

Modus Pria Surabaya Umur 27 Tahun Bisa Kumpulkan Uang Rp 7 Miliar dari 69 Orang

Polisi Sidoarjo meringkus Muhammad Fattah, umur 27 tahun asal Plemahan, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya yang meraup Rp 7 miliar

Modus Pria Surabaya Umur 27 Tahun Bisa Kumpulkan Uang Rp 7 Miliar dari 69 Orang
web
ILUSTRASI 

Polisi Sidoarjo meringkus Muhammad Fattah, umur 27 tahun asal Plemahan, Kelurahan Kedungdoro Kecamatan Tegalsari, Surabaya yang meraup Rp 7 miliar dari 69 orang.

SURYAMALANG.COM, SIDOARJO - Satu lagi kasus penipuan bermodus investasi properti di Sidoarjo terbongkar. Kali ini giliran penjualan perumahan fiktif di Desa Pepe Kecamatan Sedati, Sidoarjo.

Pelakunya adalah Muhammad Fattah, Direktur Utama PT Alisa Zola Sejahtera. Pria 27 tahun asal Plemahan, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya itupun jadi tersangka dan ditahan penyidik Polresta Sidoarjo.

Warga yang menjadi korban dalam kasus penipuan ini sebanyak 69 orang. Mereka telah menyerahkan uang ratusan juta, tapi perumahan yang dijanjikan tak kunjung ada.

"Setelah para korban melapor, petugas melakukan penyelidikan dan akhirnya menetapkan tersangka dan sudah ditahan," ungkap Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Ali Purnomo, Kamis (8/8/2019).

Polisi Sidoarjo meringkus Muhammad Fattah, umur 27 tahun asal Plemahan, Kelurahan Kedungdoro Kecamatan Tegalsari, Surabaya yang meraup Rp 7 miliar dari 69 orang.
Polisi Sidoarjo meringkus Muhammad Fattah, umur 27 tahun asal Plemahan, Kelurahan Kedungdoro Kecamatan Tegalsari, Surabaya yang meraup Rp 7 miliar dari 69 orang. (m taufik)

Dalam perkara ini, sejak tahun 2015 lalu tersangka menawarkan perumahan The Mustika Garden yang terletak di Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Sidoarjo yang dikembangkan oleh PT Alisa Zola Sejahtera.

Untuk meyakinkan para korban, pelaku menyebar brosur, memasang spanduk, dan memasarkan perumahan seharga Rp 200 juta - Rp 300 juta ke masyarakat.

Perusahaan properti itu juga menawarkan kemudahan untuk konsumennya dengan DP yang dapat diangsur selama dua tahun. Tapi sampai bertahun-tahun, lahan seluas 2,9 hektar itu tak kunjung dibangun perumahan.

"Padahal, para korban sudah membayar. Ada yang sudah lunas sampai Rp 200 juta atau Rp 300 juta," sambung mantan Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya ini.

Totalnya, uang yang diraup tersangka dari penjualan perumahan fiktif itu mencapai kisaran Rp 7 miliar. Tapi sama sekali tidak pernah ada bangunan seperti dijanjikan.

Karena tak kunjung ada bangunan, para korban pun menagih. Sampai akhirnya mereka melapor ke polisi karena merasa telah ditipu oleh perusahaan properti tersebut.

Dalam pemeriksaan, tersangka berdalih semua uang itu sudah habis. Alasannya untuk mengurus perizinan, marketing, dan sebagainya. Tapi polisi menganggapnya tidak masuk akal, sehingga dia dijerat dengan pasal penipuan dan penggelapan.

Dalam perkara ini, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Seperti surat perjanjian jual beli, addendum perjanjian jual beli, dan kwitansi pembayaran dari para korban.

Sementara dari pelaku, petugas menyita brosur penjualan, gambar site plan perumahan, umbul-umbul, banner promosi, serta miniatur rumah yang selama bertahun-tahun dipakai untuk mengelabuhi para korbannya.(

Penulis: M Taufik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved