UIN Maulana Malik Ibrahim

Ribuan Mahasiswa UIN Maliki Malang Unjuk Rasa, Anggap Uang Kuliah Tunggal (UKT) Terlalu Mahal

UIN MALIKI - Mahasiswa harus bayar Rp 7,5 juta untuk Ma’had. Setelah itu, muncul nilai UKT sebesar Rp 5,5 juta sehingga totalnya adalah Rp 13 juta.

Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
web
ILUSTRASI - Demo di UIN Maliki, Malang. 

UIN MALIKI - Mahasiswa harus bayar Rp 7,5 juta untuk Ma’had. Setelah itu, muncul nilai UKT sebesar Rp 5,5 juta sehingga totalnya adalah Rp 13 juta.

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Ribuan mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang melakukan demonstrasi memprotes Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai terlalu mahal, Jumat (16/8/2019). Mereka keberatan dengan nominal uang UKT yang dinilai terlalu mahal.

Koordinator Massa aksi Fakultas Tarbiyah, Akmal Cahya Ramadhani, mengatakan, penerapan UKT dinilai tidak mempertimbangkan aspek latar belakang ekonomi orangtua mahasiswa. Di sisi lain, munculnya nilai UKT dan Ma’had ini juga tidak transparan.

Mahasiswa saat awal masuk membayar Rp 7,5 juta untuk Ma’had. Setelah itu, muncul nilai UKT sebesar Rp 5,5 juta sehingga totalnya adalah Rp 13 juta.

"Kampus mengeluarkan UKT setelah mahasiswa baru menyelesaikan pembayaran biaya pengembangan dan Ma'had. Uang untuk Ma'had Rp 7,5 juta barulah muncul UKT, jika tak bisa bayar UKT ya tidak diterima di UIN. Dan uang tidak bisa kembali," kata Akmal, Jumat (16/8/2019).

Cerita Para Mahasiswa Baru Sebelum Masuk Mahad UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang

https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom
https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom (.)

Sementara Korlap aksi, Arifan Maulana menyebut kebijakan UIN Malang sangat berat dan berbeda dengan UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Di luar UIN Ma;iki, cukup daftar ulang dengan membayar biaya UKT. Tanpa tambahan uang pengembangan kelembagaan dan Ma'had.

Menurut Arifan, kebijakan mengeluarkan biaya di luar UKT tidak tepat. Seharusnya, mahasiswa hanya melakukan sekali bayar ketika menerapkan sistem UKT.

"Kebijakan double biaya kuliah di UIN Malang ini tidak tepat, seharusnya sudah tidak lagi ada kebijakan sejenis ketika kampus telah menerapkan sistem UKT," paparnya.

Di sisi lain, mahasiswa menyesalkan sikap kampus yang kurang transparan. Seharusnya, kata Arifi, transparansi diberitahu ke mahasiswa. Namun hingga saat ini mahasiswa tak pernah mendapat informasi yang terperinci.

Mahasiswa melakukan demonstrasi dengan berorasi dan membawa berbagai spanduk tuntutan tentang penolakan UKT. Mereka juga memasuki halaman gedung rektorat untuk menyampaikan aspirasinya. Aksi ini berjalan damai dan tertib.

Wakil Rektor III UIN Maliki Malang, Isroqunnajah, mengatakan para demonstran didominasi oleh semester atas atau kakak tingkat mahasiswa baru.

Meski begitu pihak kampus mengapresiasi aspirasi mahasiswa. Dia bakal menampung permintaan mahasiswa tentang UKT dan uang Ma'had.

"Surat itu kami terima kemudian akan diproses. Aspirasi ini sebenarnya sudah disampaikan sejak lama. Bukan semata-mata pada besaran UKT, tapi mereka minta setiap jalur itu ada SK-nya. Mereka mengajukan surat, terus nanti akan kita pelajari," papar Isroqunnajah.

Isroqunnajah mengungkapkan, sebenarnya tuntutan mahasiswa ini sudah lama. Pihak kampus mengaku telah merespons keluhan mahasiswa. Salah satunya, menurunkan UKT bagi mahasiswa yang memenuhi kriteria.

"Rata-rata setiap semester mahasiswa yang mendapatkan penurunan UKT ada sekitar 25-30 orang. Kalau jumlah yang mengajukan berapa saya tidak tahu," tandasnya. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved