Malang Raya

Kerugian Bencana Alam Lebih Kecil Dibanding Korupsi

KOMAK Jatim mengadakan diskusi publik terkait calon pimpinan KPK mendatang, Senin (19/8/2019) di kampus III Universitas Widyagama Malang.

Kerugian Bencana Alam Lebih Kecil Dibanding Korupsi
istimewa
Suasana diskusi publik tentang capim KPK di kampus III Universitas Widyagama Malang, Senin (19/8/2019). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - KOMAK (Koalisi Masyarakat Anti Korupsi) Jatim mengadakan diskusi publik terkait calon pimpinan KPK mendatang, Senin (19/8/2019) di kampus III Universitas Widyagama Malang.

Saat ini seleksi capim KPK sudah mengerucut mencapai 40 orang.

“Komisioner KPK mendatang harus lebih hebat. Selain berintegritas juga harus berani melakukan pemberantasan korupsi,” jelas Sulardi, akademisi UMM di acara itu.

Dikatakan, korupsi sudah merajalela ke semua sektor. Bahkan kerugian korupsi ada yang lebih besar dari bencana alam.

Ia menyebut contoh bencana Palu. Kerugian negara mencapai Rp 1 triliun. Sedang kerugian negara atas korupsi e KTP mencapai Rp 2,3 triliun.

“Kerugian korupsi melebihi kerugian bencana alam. Sehingga saatnya calon pimpinan KPK mendatang adalah yang memiliki integritas,” kata dia.

Selain itu diharapkan capim KPK bebas dari masalah hukum. Sebab pimpinan KPK diberhentikan saat ditetapkan menjadi tersangka.

“Diharapkan capim KPK tidak memiliki masalah hukum agar tidak tersandera dan menjadi bumerang bagi KPK,” kata dosen ini.

Karena bisa jadi kalau kasusnya menyeruak lagi statusnya ditingkatkan lagi. Karena itu, KPK selain kuat juga banyak musuhnya.

Sedang keynote speaker, Prof Abdul Muktie Fajar, Hakim MK periode 2003-2009 menyatakan KPK lahir karena kondisi stagnan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Yaitu dari kepolisian dan kejaksaan.

Halaman
12
Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved