Kabar Madiun

Sumur P2T Bantuan Pemerintah Mangkrak, Kaum Tani Madiun Keluarkan Biaya Lebih untuk Mengairi Sawah

#MADIUN - Setiap petani yang menggunakan sumur tersebut dikenakan biaya Rp 40.000/jam untuk membayar tagihan listrik.

rahadian bagus
Sumur P2T bantuan Pemerintah Kota Madiun, yang mangkrak. 

#MADIUN - Setiap petani yang menggunakan sumur tersebut dikenakan biaya Rp 40.000/jam untuk membayar tagihan listrik.

SURYAMALANG.COM, MADIUN - Sejumlah sumur proyek pengembangan air tanah (P2T) di Kota Madiun mangkrak, tidak dapat difungsikan. Padahal, seharusnya sumur bertenaga listrik ini dapat membantu petani memenuhi kebutuhan air saat masa tanam pada musim kemarau.

Satu di antara sumur P2T yang mangkrak berada di Kelurahan Kanigoro Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Sumur yang berada di tengah areal sawah warga itu dibangun sekitar tahun 2017.

Pantauan di lokasi, bangunan sumur bercat biru tersebut masih dalam kondisi terawat. Hanya saja, lahan di sekitarnya banyak ditumbuhi rumput liar, karena jarang digunakan.

Di belakang bangunan sumur instalasi listrik PLN dan meteran listrik atau kWh meter. Sementara di bagian samping bangunan, terdapat pipa berdiameter sekitar 15 cm yang mengalirkan air dari dalam sumur ke irigasi pertanian.

Informasi yang dihimpun, setidaknya ada tujuh sumur P2T di Kota Madiun yang mangkrak. Padahal seharusnya, sumur tersebut dapat meringankan beban para petani saat masa tanam pada musim kemarau.

Pengurus Kelompok Tani Lestari Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kasno (50) mengatakan sudah lebih dari setahun sumur bantuan dari Pemkot Madiun itu mangkrak. Hal ini karena daya listrik yang dipasang terlalu rendah, sehingga tidak kuat untuk mengoperasikan pompa listrik.

"Uji coba sumur dalam itu pertama kali dilakukan Agustus 2017. Saat itu ya difungsikan petani karena sudah masuk musim kemarau," katanya, Selasa (26/8/2019) siang.

Sumur tetsebut sempat dapat digunakan ketika masih menggunakan meteran pascabayar. Pada saat itu sumur masih difungsikan para petani dan dayanya memadai untuk menghidupkan pompa mesin sumur yang memiliki daya 22.000 kVA.

Dalam sebulan, rata-rata Kelompok Tani Lestari membayar tagihan listrik sebesar Rp4,5 juta. Uang tersebut diambilkan dari biaya para petani yang menggunakan sumur itu.

Halaman
123
Penulis: Rahadian Bagus
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved