Malang Raya

Cukai Rokok dari Malang dan Kediri Masing-masing Rp 11 Triliun

Cukai rokok dari #Malang dan #Kediri masing-masing Rp 11 triliun sehingga totala Rp 22 triliun atau 98 persen dari total cukai Rp 23 triliun.

Penulis: Aminatus Sofya | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
ARSIP - Ratusan massa aksi dari Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Malang menggelar aksi damai Hari Tanpa Rokok di Jalan Kertanegara, Kota Malang, Senin (1/6/2015). 

Cukai rokok dari #Malang dan #Kediri masing-masing Rp 11 triliun sehingga totalnya Rp 22 triliun. Jumlah itu berarti 98 persen dari total Rp 23 triliun pendapatan hingga Agustus 2019 yang dikumpulkan Ditjen Bea dan Cukai Wilayah II Jatim meliputi Malang, Kediri, Blitar, Madiun, Jember, Banyuwangi, dan Probolinggo.

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Industri rokok terus digencet melalui berbagai regulasi, terutama karena alasan kesehatan. Namun, cukai rokok masih menjadi pendapatan terbesar bagi Direktorat Jendral Bea dan Cukai Wilayah II Jawa Timur (Jatim). Tercatat 98 persen pendapatan Ditjen Bea dan Cukai Wilayah II Jatim bersumber dari rokok.

"Di pajak, bea masuk itu sangat sedikit. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan cukai rokok," ujar Kepala Ditjen Bea Cukai Kanwil II Jatim, Agus Hermawan Rabu (4/9/2019).

Per Agustus 2019, lebih dari Rp 23 triliun berhasil diraup oleh Ditjen Bea dan Cukai Kanwil II Jatim. Apabila dihitung, Rp 22,5 triliun bersumber dari cukai rokok.

Agus mengatakan Ditjen Bea dan Cukai Wilayah II Jatim ditarget menyetor pendapatan paling tinggi nomor dua kepada negara yakni Rp 42 triliun. Kendati baru terealisasi 55 persen, ia tak khawatir dan bakal mengebutnya di akhir tahun.

"Kalau lihat tren, nanti di akhir tahun itu ada anomali. Biasanya pendapatan akan naik di akhir tahun," katanya.

Membina Perusahaan Rokok Golongan 3

Agus mengatakan Ditjen Bea dan Cukai Wilayah II Jatim lebih mengutamakan pendekatan dalam memerangi rokok tanpa cukai.

"Perusahaan rokok tanpa cukai itu kan biasanya golongan 3. Indsutri kecil, jadi kami lebih utamakan pendekatan emosional. Kami bina istilahnya," kata Agus.

Metode itu lanjut dia, bertujuan agar perusahaan rokok tersebut mau melegalkan diri dan menyetor pendapatan kepada negara. Cukai rokok sebesar 62 persen, diakuinya menjadi salah satu penyebab munculnya rokok ilegal.

"Kami dorong supaya perusahaan ini legal. Karena memang berat ya. Misal harga rokok Rp 10 ribu, 62 persen dari harga ini disetor kepada negara," ucapnya.

Wilayah kerja Ditjen Bea dan Cukai Wilayah II Jatim meliputi tujuh daerah yakni Malang, Kediri, Blitar, Madiun, Jember, Banyuwangi, dan Probolinggo.

Dari jumlah itu, Malang dan Kediri menyumbangkan pendapatan paling banyak yakni masing-masing Rp 11 triliun.

"Memang Kediri dan Malang itu paling banyak industri rokoknya. Otomatis jadi yang paling banyak," tutupnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved