Kabar Surabaya

Kaum Tani Garam Madura Protes Pernyataan Jokowi di NTT Soal Garam Madura Lebih Jelek

Kaum tani garam #Madura menuntut Presiden Jokowi untuk mencabut pernyataannya di NTT yang menganggap produksi garam Madura lebih jelek daripada NTT.

Kaum Tani Garam Madura Protes Pernyataan Jokowi di NTT Soal Garam Madura Lebih Jelek
Fatimatuz Zahro
Ratusan petani dari Pulau Madura yang tergabung dalam Forum Petani Garam Madura (FPGM) unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu (4/9/2019). 

Kaum tani garam Madura menuntut Presiden Jokowi untuk mencabut pernyataannya di NTT yang menganggap produksi garam Madura lebih jelek daripada Nusa Tenggara Timur (Kupang) dan garam impor.

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Ratusan petani dari Pulau Madura yang tergabung dalam Forum Petani Garam Madura (FPGM) unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu (4/9/2019).

Para petani yang datang dengan rombongan lima bus itu menyampaikan tiga tuntutannya pada Pemerintah Jawa Timur.

Pasalnya, kaum tani garam Madura itu sejak awal panen hingga masa panen raya saat ini merasakan langsung dampak negatif anjloknya harga dan tersumbatnya penjualan garam rakyat hampir di semua sentra garam.

"Kami sangat menghargai kepedulian Gubernur Jawa Timur dan para Bupati di Madura dalam memperjuangkan nasib kami sebaat anak - anak bangsa yang berdaulat dan bermatabat kepada pemerintah pusat," kata Ketua FPGM Suyanto.

https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom
https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom (.)

Namun pasca penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan para penyerapan garam yaitu beberapa pabrikan pengolah garam dengan mitra pemasoknya di Jakarta pada tanggal 06 Agustus 2019 yang lalu dengan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, menurut FPGM apa yang diamati di lapangan terjadi perbedaan.

Hasil MoU belum dilaksanakan secara optimal, sedangkan di sisi lain stock garam rakyat terus bertambah dan semakin menumpuk. Karenanya mereka menyampaikan tiga tuntutan dari petani garam Madura.

"Kami meminta pemerintah pusat khususnya kementerian terkait sesuai dengan kompetensinya agar memerintahkan pihak pabrikan pengolah garam yang telah menandatangani MoU secepatnya melakukan penyerapan garam rakyat tanpa pembatasan kuantitas pengiriman dengan harga yang layak dan manusiawi," kata Suyanto.

Pasalnya harga garam petani yang diserap saat ini jauh dari kata lain. Harga garam dari petani anjlok hingga Rp 700 per kilogram. Padahal tahun lalu harga garam saat panen ada yang sampai Rp 2600 per kilogramnya. Maka mereka ingin agar harga garam petani dinaikkan kembali seperti panen tahun lalu.

Tuntutan yang kedua, mereka menyampaikan, selama penyerapan garam rakyat hingga kini belum optimal dan stock masih menumpuk di gudang -gudang petani garam. Maka dengan kondisi itu mereka meminta Pemerintah Pusat khususnya Kementerian terkait meniadakan sisa quota importasi garam tahun 2019.

"Dan yang terakhir kami mencermati kejadian saat Presiden Jokowi berkunjung ke tambak garam di Nusa Tenggara Timur tanggal 21 Agustus 2019 yang lalu, kami memprotes keras panitia pelaksana telah menunjukkan contoh garam Madura jelek di hadapan presiden," kata Suyanto.

Sehingga mereka juga memohon kepada Presiden Jokowi untuk mencabut pernyataannya di NTT yang menganggap garam Madura lebih jelek dari garam produksi Nusa Tenggara Timur (Kupang) dan garam impor.

"Padahal itu sama sekali tidak benar. Garam Madura dikenal sebagai permatanya, kualitas garam kami tidak jelek. Bisa dibuktikan itu," katanya.

Dalam aksi tersebut kelompok FPGM ditemui oleh Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak dam Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono. Mereka diajak diskusi dalam dua forum yaitu dalam forum besar dan dilanjutkan dengan forum kecil. Yang diharapkan bisa mendapatkan solusi terbaik.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved