Universitas Brawijaya Malang

Dosen FPIK Universitas Brawijaya Malang Produksi Alat Penetas Telur Penyu Otomatis

Sukandar MP, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang memproduksi alat penetas telur penyu otomatis.

Dosen FPIK Universitas Brawijaya Malang Produksi Alat Penetas Telur Penyu Otomatis
Sylvianita Widyawati
Ir Sukandar MP, dosen FPIK UB Malang dengan Maticgator, mesin penetas telur penyu otomatis, Selasa (10/9/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Ir Sukandar MP, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang memproduksi alat penetas telur penyu otomatis bernama Maticgator.

Direktur Program Pengembangan Usaha Intelektual Kampus (PPUIK) Maticgator ini menyatakan sebagai hilirisasi sehingga bisa menjual produknya.

"Sasarannya ya pembuat kebijakan. Awal pembuatan ya buat yang peduli pada penyu," jelas Sukandar kepada Suryamalang.com, Selasa (10/9/2019) di kampus.

Ide pembuatan karena berbagai persoalan di lapangan terkait kehidupan penyu ini. Seperti masih ada pencurian telur penyu, juga ada ancaman dari binatang lain. "Misalkan semut. Jika lokasi pantainya banyak didatangi wisatawan, maka akan banyak semut," jelasnya.

Jika ada semut, maka maka jika menetas akan dikelilingi semut. Penyu biasanya bertelur di musim dingin (mbediding, Bahasa Jawa) antara Mei sampai Oktober.

Persoalan lain adalah saat musim itu ada rob atau air laut naik. Maka ini akan meredam telur antara satu sampai dua jam. Jika kelembabannya tinggi, maka telur tidak bisa menetas.

"Untuk konservasi, harusnya tidak perlu banyak campur tangan manusia. Tapi karena ada persoalan seperti itu maka harus dipikirkan solusinya," katanya. 

Meski merupakan alat, tapi masih menggunakan media pasir untuk menetaskan sehingga hanya menjaga kelembaban dan suhunya.

Meski dari sisi bisnis terbatas pasar dan marginnya, namun akhirnya malah ada masukan dari reviewer agar juga multi fungsi tak hanya buat telur penyu. Tapi pada hewan lain seperti reptil, kura-kura. "Untuk mendatang akan selalu ada perbaikan agar bisa multi fungsi. Tinggal sistemnya yang digabungkan," paparnya.

Namun yang dipikirkan adalah mendapatkan telur dari bintang lainnya yang tentunya harganya sangat mahal. Misalkan telur kura-kura Afrika yang harganya jutaan. Alat penetas telur otomatis sekilas mirip lemari kayu.

Di dalamnya ada lagi wadah untuk menetaskan telur yang diberi kotak-kotak pembatas. Jika lemari kecil bisa sampai 50 telur.

Dikatakan, untuk melihat penyu betina dan jantan bisa dari lama menetasnya. Jika di atas 60 hari maka keluar tukik jantan. Jika dibawah 50 hari, maka betina. Secara umum, proporsi penyu betina cukup banyak dan tidak imbang dengan populasi penyu jantan.

Rencana pihaknya akan ke Taman Nasional Baluran dan sudah kontak sekaligus ke Bali pada Oktober 2019 mendatang untuk bertemu pengelola pesisir pantai di Jatim dan NTT.

Teknologi produk ini juga sudah memiliki nomor pendaftaran hak paten. Diharapkan jika konservasi penyu berhasil maka program ekowisata tukik bisa berkelanjutan.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved