Universitas Brawijaya Malang

Lereng Gunung Arjuno Sering Mendung, Pengolahan Kopi UB Forest Dipindah ke Karangploso Bawah

Hasil produksi kopi petani di lahan Universitas Brawijaya (UB) Forest di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, terpaksa dibawa ke Desa Kepuh.

Lereng Gunung Arjuno Sering Mendung, Pengolahan Kopi UB Forest Dipindah ke Karangploso Bawah
Sylvianita Widyawati
Penjemuran biji kopi di lokasi pengolahan kopi UB Forest di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Rabu (11/9/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Hasil produksi kopi milik petani di lahan Universitas Brawijaya (UB) Forest di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, terpaksa dibawa ke kawasan lab terpadu UB di Desa Kepuh.

Di sana ada fasilitas pengolahan kopi. Sebab di lereng Gunung Arjuno itu kerap mendung sehingga mempengaruhi kualitas produksi karena kopi tidak bisa kering maksimal.

"Sebenarnya di awal kebijakan Rektor UB, semua diselesaikan di Karangploso atas dan keluar dalam bentuk produk. Tapi kondisi alam membuat kami bawa ke Karangploso bawah," jelas Megha Baskara, Manajer Produksi Pengolahan dan Pemasaran Kopi UB Forest pada wartawan, Rabu (11/9/2019). Ini dicontohkan pada 2018, produksi kopi melimpah tapi banyak yang kena jamur.

"Di Karangploso bawah panas, tapi di atas kerap mendung. Jadi kami kemudian izin memindahkan kegiatan pengolahan kopi dibawah," tambah Megha. Petani menanam kopi sejak lama di antara pohon pinus yang ada sejak kawasan hutan itu dikelola Perhutani. Tapi pada akhir Desember 2015, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menghibahkan ke UB sebagai hutan pendidikan dan pelatihan seluas 544,74 hektare.

Maka hasil produksi petani dijual ke UB Forest dengan harga sesuai pasar. Luas lahan yang ditanami kopi sekitar 250 hektare. Karena tumbuh di antara pohon pinus itu membuat kopi UB Forest beda. Sebab tananam kopi akan menyerap apa yang tumbuh di sekitarnya. Tanaman kopi di sana ada dua jenis yaitu Arabica dan Robusta karena berada di ketinggian 800-1200 meter di atas permukaan laut.

Ia mengajak wartawan melihat ke lahan proses pengolahan kopi secara natural dengan dijemur dulu untuk mengurangi kadar airnya. Kopi dari petani disortir dari yang warnanya merah (cherry merah) 95 persen, sedang dan hijau. "Petani mengambil biji kopi campur. Tidak semuanya merah. Jadi dipisahkan," kata Megha. Padahal jika mengambil yang merah saja akan mempengaruhi harga jualnya. Penjemuran antara 30-35 hari. Jika panas terik maka akan mempercepat pengeringan kopi.

Proses natural pengolahan kopi juga akan mempengaruhi cita rasa. Dikatakan Megha, kampanye ke petani agar memanen yang merah saja kadang juga sulit diterima. Padahal ini agar mereka aware pada tanaman yang mereka miliki. Sebab tujuan akhirnya adalah mendapatkan kopi berkualitas di Malang. Sejauh ini produk yang banyak dibeli adalah dalam bentuk grean bean. Sedang untuk produk jadi yaitu bubuk kopi masih kurang.

"Target lima tahun pertama ini masih untuk internal UB. Tapi jika ada yang pembeli eksternal juga kami jual dan sudah dipasarkan lewat instagram," papar Megha. Kopi dipanen petani setahun satu kali. Untuk Arabica bisa dipanen antara Mei-Juli. Setelah itu panen Robusta. Masing-masing punya karakter rasa sendiri. Sedang Direktur UB Forest Prof Eko Ganis Sukoharsono mengajak wartawan melihat sebagian lokasi tanaman kopi di UB Forest di antara tegakan pinus.

"Ini masih ada yang cherry merah," tunjuknya. Menurutnya, sebagai pengelola UB Forest akan terus melakukan pengembangan dari raw material kopi misalkan untuk parfum, kosmetik, lulur, minuman dan kulit biji kopi bisa jadi kompos. Dikatakan lahan UB Forest sangat luas. Tanaman utama di hutan itu berupa tegakan pinus dan mahoni. Masalah di kawasan itu adalah sumber air relatif sedikit.

Sehingga harus melestarikan sumber air yang ada. Serta belum ada sumber listrik. "Tapi ini baru ada informasi akan masuk listrik tapi lokasinya dibawah dan baru disalurkan ke lainnya. Listrik diperlukan untuk kehidupan," kata Eko Ganis. Di areal UB Forest juga ada petilasan yang dikenal di Gunung Mujur. Selain itu juga baru dibangun canopy walk yang bisa melihat pemandangan sekitarnya.

Di kawasan itu ada enam gate. Jika lewat gate pertama, jalanan relatif nyaman karena sudah beraspal. Sejauh ini masih gratis untuk masuk di sana. Di sana juga ada pemukiman warga.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved