Malang Raya

Pemerhati Transportasi: Pemkot Malang Harus Kajian Mendalam sebelum Bangun Lintas Rel Terpadu

Nusa yang juga Dosen di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menganggap, rencana itu cukup bagus.

Pemerhati Transportasi: Pemkot Malang Harus Kajian Mendalam sebelum Bangun Lintas Rel Terpadu
Hayu Yudha Prabowo
PADAT - Ratusan kendaraan terjebak kemacetan lalu lintas keluar Kota Malang dari arah selatan ke utara di Jalan A Yani, Kota Malang, Sabtu (18/5/2019). Meningkatnya volume kendaraan pada akhir pekan dan antusiasme pengguna jalan untuk melewati jalan Tol Malang - Pandaan membuat kepadatan lalu lintas dari Jalan Panji Suroso, Kota Malang hingga Underpass Karanglo, Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Wacana pembangunan Lintas Rel Terpadu (LRT)  oleh Pemkot Malang ditanggapi dingin pemerhati tansportasi Dr Ir Nusa Sebayang MT.

Nusa yang juga Dosen di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menganggap, rencana itu cukup bagus.

Asalkan dalam pembangunan tersebut dilakukan kajian yang lebih mendalam, terutama di wilayah yang memang menjadi sarang kemacetan.

"Saya kira ini bagus, cuman harus dipetakan dulu dengan peta pergerakan, jadi jangan langsung diputuskan dan tidak menjawab permasalahan yang ada. Karena permasalahan itu bisa dilakukan dengan melakukan pemetaan," ucapnya saat dihubungi SURYAMALANG.COM, Senin (16/9/2029).

Rencana Baru Wali Kota Malang Sutiaji, Bangun Lintas Rel Terpadu (LRT) Senilai Rp 200 Miliar per Km

Nusa menjelaskan, Pemkot Malang harus melihat dua pola pergerakan terlebih dahulu, yaitu pergerakan internal dan pergerakan eksternal sebelum membangun LRT.

Pergerakan internal di lingkup Kota Malang atau external yang melingkupi wilayah di sekitar Kota Malang (Malang Raya)

Dengan melihat pola pergerakan melalui pemetaan tersebut, akan dapat memberikan hasil yang optimal sebelum memutuskan pembangunan LRT.

Yaitu dengan mengkaji dulu wilayah mana yang akan dijadikan tempat untuk membangun transportasi berbasis modern itu.

Pemetaan bisa dilakukan dengan melihat kepadataan kendaraan pada waktu-waktu tertentu.

Setelah itu, baru melihat tempat yang akan dijadikan jalur LRT tersebut dari mana ke mana dengan melakukan survey yang mendalam.

"Contohnya saja di Dinoyo. Di sana kan kawasan sering macet, kemudian banyak sekali Universitas. Jadi di sana harus dilakukan pemetaan. Setelah baru dilakukan simulasi dan tidak langsung membangun," ujarnya.

Nusa juga menilai, bahwa kemacetan di Kota Malang banyak berakar dari sempitnya mulut-mulut di tiap persimpangan.

Untuk itu, ia meminta kepada Pemkot Malang agar melakukan menejemen pergerakan transportasi dengan baik.

Seperti membuat rayonisasi di tiap sekolah untuk mengurai kemacetan.

"Memang ini sedikit sulit, tapi harus dilakukan. Tapi saya mendukung langkah yang dilakukan oleh Pemkot Malang. Karena mereka cukup inovatif dengan mencari alternatif untuk mengurai kemacetan yang ada di Kota Malang," tandasnya.

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved