Kabar Pamekasan

Makin Banyak Ibu Guru PNS di Pamekasan Ceraikan Suami yang Non PNS, Ini Dalihnya

Guru wanita yang menggugat cerai suaminya non PNS, bukan karena suaminya selingkuh atau menikah lagi. Alasannya, nafkah suami tidak cukup.

Makin Banyak Ibu Guru PNS di Pamekasan Ceraikan Suami yang Non PNS, Ini Dalihnya
creativemarket
ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, PAMEKASAN - Sejak setahun belakangan ini, kecenderungan guru sekolah dasar (SD) di Pamekasan untuk bercerai cukup tinggi. Hampir setiap pekan ada saja yang mengajukan permohonan izin cerai ke Dinas Pendidikan (Diknas) Pamekasan, Pulau Madura.

Sebagian besar yang mengajukan izin untuk bercerai adalah guru wanita, terutama yang bersuamikan non PNS. Ada yang belum punya anak, tetapi juga ada yang sudah memiliki menantu dan cucu.

Mereka berdalih, uang belanja suaminya tidak cukup buat kebutuhan sehari-hari. Ada yang beralasan pula suaminya berubah menjadi pecemburu, serta ketidakcocokan antara dirinya dengan suaminya.

Plt Kepala Diknas Pamekasan, Prama Jaya, Selasa (17/9/2019) mengakui, sebagian besar dari guru yang mengajukan cerai itu guru wanita.

Namun selama ini, pihaknya berupaya mencegah keinginan untuk mereka bercerai dengan memberikan pemahaman, agar mereka mempertahankan keutuhan rumah tangganya.

Prama mengatakan, guru wanita yang ingin menggugat cerai suaminya dari non PNS, bukan karena suaminya selingkuh atau menikah lagi dengan wanita lain. Alasannya nafkah dari suaminya dianggap tidak cukup.

“Kalau dari gaji yang mereka terima ditambah uang sertifikasi, kami rasa mereka bisa dibilang cukup sejahtera. Tapi kenapa mereka masih beralasan nafkah suami belum cukup. Apakah ini adanya ketimpangan ekonomi antara mereka dengan suaminya, ini yang belum kami mengerti,” kata Prama Jaya.

Begitu juga alasan karena perilaku suaminya yang kini mulai berubah menjadi gampang pecemburu. Mereka lantas memilih menggugat cerai. Alasan ini dinilai sepele dan dicari-cari, karena suami mulai cemburu, bisa jadi ada sebabnya.

Dengan alasan seperti itu, pihaknya berusaha merukunan kembali. Sebagai tenaga pendidik yang patut menjadi contoh bagi anak didiknya, jangan sampai hal yang sepele dalam rumah tangga dibesar-besarkan dan berujung perceraian.

Sementara guru pria yang ingin menceraikan istrinya, karena sikap istrinya terhadap dirinya berubah. Sudah mengabaikan tugasnya sebagai istri. “Kalau guru pria ingin menceraikan istrinya, karena istri mulai tidak setia, sepertinya alasan klasik,” kata Prama.

Dikatakan, mereka yang mengajukan cerai, baik guru wanita atau guru pria, ketika mengajukan permohonan, lebih dulu diberi pembinaan oleh kepala sekolah yang bersangkutan dengan rentang waktu tiga bulan.

Setelah itu, diberi pembinaan oleh pengawas sekolah. Bila kepala sekolah dan pengawas belum berhasil membina, pihaknya turun tangan memberikan pembinaan juga.

Pembinaan itu dengan cara memanggil guru yang menggugat lebih dulu, kemudian suami atau istrinya yang digugat untuk dimintai keterangan. Setelah itu, keduanya dipanggil dikumpulkan bersama dan ditanya kembali.

Jadi upaya memperketat penceraian di kalangan guru ini terpaksa dilakukan. Jika mereka masih ngotot ingin bercerai, kami ajukan ke bupati dengan tembuan inspektorat.

“Setelah inspektorat memanggil mereka, maka mereka nanti dipanggil oleh Pak Bupati untuk diberi pembinaan langsung, agar mereka tidak cerai,” ungkap Prama Jaya.

Penulis: Muchsin
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved