Selasa, 28 April 2026

Malang Raya

Begini Cara EVOS Dalam Mengedukasi Orang Tua Soal Olahraga E-Sports

Olahraga E-Sports yang berbasis game saat ini memang sedang ramai digandrungi oleh masyarakat luas terutama para kawula muda.

SURYAMALANG.COM/M Rifky Edgar
Klub E-Sports EVOS berbagi tips kepada player game free fire di Warunk Upnormal, Kota Malang, Sabtu (21/9/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Olahraga E-Sports yang berbasis game saat ini memang sedang ramai digandrungi oleh masyarakat luas terutama para kawula muda.

Bahkan E-Sports sendiri sudah masuk dalam cabang olahraga di Asian Games 2018.

Jika berbicara soal game, pandangan para orang tua soal game memang berbeda-beda.

Kebanyakan game, dinilai menjadi faktor buruk dalam keberlangsungan hidup anak-anak terutama di bidang pendidikan.

Anak-anak menjadi lalai di sekolah, dan lebih mengutamakan game dari pada pelajaran di sekolahnya.

Klub E-Sports terbesar di Indonesia, EVOS memiliki beberapa tips terkait dalam memberikan edukasi kepada orang tua soal game.

Manager EVOS Free Fire, Kristiawan Eko Susilo menyampaikan bahwa game saat ini sedikit ada perbedaan dengan game-game yang ada di masa lalu.

Di mana game-game saat ini memiliki output yang lebih baik kepada para pemain atau playernya.

Eko menjelaskan, bahwa game saat ini bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

Hal itu bisa dilihat dari para pemain pro player yang penghasilannya mencapai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

“Bisa dilihat pemain pro player, mereka bisa meraup keuntungan berapa juta? Belum dari gaji bulanan mereka dan kemudian mereka di endorse,” ucap Kristiawan Eko Susilo kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (21/9/2019).

Akun yang dimiliki oleh pro player ataupun pemain yang hebat dalam permainan itu juga bisa dijual.

Harganya pun juga tidak murah, satu akun bisa dijual dengan harga jutaan rupiah tergantung dari peringkat pemain di game tersebut.

Belum lagi pemain pro player juga bisa menjual diamondnya kepada player-player lain untuk membeli item di dalam permainan game.

Selain itu, ia melihat bahwa E-Sports ini merupakan cabang olahraga yang sangat menguntungkan dan saat ini hampir sama dengan sepakbola.

Karena antusiasnya begitu besar dan klub E-Sports sendiri jumlahnya kian lama kian bertambah.

“Jadi yang pertama harus dirubah itu mindset. E-Sports ini tidak hanya soal game, tapi juga olahraga. Olahraga yang mengasah otak karena gamenya ialah strategi,” ucapnya.

Eko menganalogikan olahraga E-Sports dengan permainan catur.

Menurutnya, itu sama saja, karena sama-sama dimainkan dengan cara berpikir.

Hanya saja, untuk olahraga E-Sports diaplikasikan dalam media game.

“Jadi medianya saja yang berbeda. Tapi aslinya ya sama. Tinggal orang tua saja ini yang harus melihat potensi dan bakat dari anaknya, dan mereka harus mendukung,” imbuhnya.

Pria kelahiran Malang yang juga pernah menjadi pelatih di EVOS Dota II itu mengatakan, bahwa seluruh atlet EVOS juga diperlakukan seperti atlet-atlet pada umumnya.

Seperti melakukan latihan, melatih mental bermain, mengatur strategi dan menjaga kelangsungan hidup mereka.

Selain itu, ia juga menyarankan kepada para player E-Sports yang kebanyakan didominasi oleh anak-anak muda agar menjaga waktu bermain game mereka.

Kata Eko, waktu bermain game yang efektik paling lama adalah delapan jam.

Dengan melakukan disiplin waktu tersebut, ia yakin bahwa player akan bisa menjaga keberlangsungan hidup mereka agar tetap fresh dan fokus baik dibidang E-Sports maupun pendidikan.

“Jadi apa yang kami terapkan sama pro player EVOS beda dengan player-player yang lain. Kalau pro player EVOS kan murni kerja. Kalau player yang lain kami yang tidak tahu, tapi apabila tips yang saya berikan tadi dilakukan, saya yakin akan bermanfaat,” ucapnya.

Sementara itu, EVOS Cupay yang memiliki nama asli Naufal Nabbarnur Ibrahim mengingatkan kepada para player E-Sports agar terus berlatih untuk bisa menjadi pro player.

Meski demikian, pemuda kelahiran Bogor itu meminta kepada para player E-Sports agar tidak lupa dengan waktu.

“Ya, waktu itu yang jadi perhatian yang serius. Dulu sebelum saya masuk E-Sports ya gitu, mesti selalu main game sampai lupa dengan waktu. Tapi lama kelamaan dengan bisa mengatur waktu pikiran kita menjadi fresh apalagi saat bermain game,” ucapnya.

Cupay panggilan akrabnya itu juga tidak menyangka bahwa dirinya saat ini bisa menjadi seorang pro player di game Free Fire.

Meski sudah mengharumkan nama Indonesia karena sudah menjuarai World Cup Free Fire 2019 di Thailand tersebut, ia tetap rendah hati dan mengaku akan mendukung terus player-player lain yang ada di Indonesia.

“Kami bersyukur, dari olahraga E-Sports saya bisa beli mobil. Doakan saja nantinya bisa membeli rumah juga,” ujar pria lulusan SMA tersebut.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved