Breaking News:

Universitas Widyagama Malang

Direktur Riset dan Pengabdian Kemenristekdikti: Perguruan Tinggi Harus Punya Bidang Unggulan

#MALANG - Direktur Riset dan Pengabdian Kemenristekdikti, Prof Dr Ocky Karna Radjasa MSc menyatakan perguruan tinggi harus punya bidang unggulan.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: yuli
sylvianita widyawati
Prof Dr Ocky Karna Radjasa, Direktur Riset dan Pengabdian Kemenristekdikti (batik hijau) bersama Rektor Universitas Widyagama Malang, Prof Dr Ir Iwan Nugroho MS (batik merah), Rabu (2/10/2019). 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Direktur Riset dan Pengabdian Kemenristekdikti, Prof Dr Ocky Karna Radjasa MSc menyatakan perguruan tinggi harus punya bidang unggulan. Untuk menentukan itu, bisa dilakukan FGD dan analisa SWOT. Apa kekuatan, kelemahan, ancaman dan kesempatannya.

"Semua harus dipetakan. Perguruan tinggi tidak bisa unggul di semua bidang. Tugas pimpinan memutuskan hasil kesepakatannya," kata Ocky saat Universitas Widyagama (UWG) Malang, Rabu (2/10/2019).

Ia hadir sebagai keynote speaker di seminar "Smart Innovation And Green Technology For Industry 4.0" di aula UWG.

Ia menceritakan pekan lalu diundang senat akademik ITB terkait memutuskan bidang unggulan ITB. Disebutnya ITB punya tujuh bidang unggulan dan akan menjadikan lima bidang unggulan. Maka dilakukan FGD. "Saat itu saya memberikan pemetaannya dengan melihat haki, publikasi, produk hilirisasi dan prototipe teknologi. Itu yang saya pakai untuk penilaian PTNBH," jelas dosen Universitas Diponegoro Semarang ini.

Kemudian mengaitkan dengan SDM, manajemen riset, output dan revenue generating (hasil kegunaan risetnya). Untuk menentukan bidang unggulan, maka rujukannya pada PRN (Prioritas Riset Nasional).
Untuk itu, perguruan tinggi harus mendisiplinkan mengikuti arah PRN. Jika ada perubahan di PRN, maka perguruan tinggi juga harus mengikutinya. "Ngapain bikin riset yang tidak ada di PRN," tanyanya.

Seorang dosen PTS di Surabaya menanyakan di acara itu bagaimana membuat unggulan tapi bidang lain merasa tidak terabaikan dan legowo? Ocky menjawab maka harus melakukan swot dan dibicarakan dengan terbuka. Sehingga bisa diketahui unggulannya dimana.

Tapi dikatakan, tidak semua perguruan tinggi memiliki RIP (Rencana Induk Penelitian). Sehingga risetnya kutu loncat. Kadang di kesehatan, pertanian dll sesuai mood rektor. Jika perguruan tinggi memiliki itu, maka akan displin melaksanakan apa yang dituangkan di RIP.

"Perguruan tinggi yang tidak memiliki RIP dan rencana strategis pengabdian tidak akan saya berikan dana sepersen pun," jelas dia. Ini sudah dilakukannya. Kecuali perguruan tingginya mungkin sudah bisa mendanai riset sendiri sehingga tidak peduli dengan dana riset dari Kemenristekdi. Memang, lanjutnya, untuk menentukan bidang unggulan perlu waktu. Ia mencontohkan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang butuh waktu dua tahun.

PRN 2020-2024 juga akan ada. Maka riset perguruan tinggi harus mengacu kesana. Ada sembilan fokus riset antara lain pertanian, kesehatan, transportasi, sosial humaniora, lain-lain. Lain-lain mengacu pada riset multi disiplin dan lintas sektor. Lima topik di lain-lain itu adalah kebencanaan, biodiversiti, stunting nutrition, perubahan iklim serta lingkungan dan air.

Dijelaskan, dana riset Indonesia hanya 0,25 persen dari GDB (Gross Domestic Bruto) atau setara Rp 24, 9 triliun. Dan Kemenristek hanya kebagian Rp 2,4 triliun. Sisanya dana riset ada di kementrian lain.
Tahun ini ada 24.000 proposal penelitian. Namun kemenristek hanya mendanai 6000 proposal atau 25 persen. Sementara itu bagi riset di kementrian lain, tetap harus mengacu ke PRN. Karena itu ada SIM (Sistem Informasi Manajemen) PRN. Tujuannya agar risetnya tidak kemana-mana.

Sementara Prof Dr Ir Iwan Nugroho MS, Rektor UWG Malang menyatakan perguruan tingginya mengarah pada bidang unggulan entrepreuship. Sehingga prodi-prodi yang ada mengarah ke entrepreneurship. "Seperti pertanian, ekonomi. Untuk tehnik mengarap ke teknologi tepat guna untuk mendukung itu. Sedang di hukum pada penguatan lembaganya," jawabnya. Bidang keunggulan UWG sudah dilaksanakan sejak lama.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved