Malang Raya

GALERI FOTO - Pemusnahan Benih Tanaman Impor dari 9 Negara Lewat Kantos Pos Malang

Sebanyak 83 paket aneka jenis tanaman impor dari 9 negara yang tidak disertai dokumen dimusnahkan karena berpotensi menyebarkan penyakit tanaman.

GALERI FOTO - Pemusnahan Benih Tanaman Impor dari 9 Negara Lewat Kantos Pos Malang
hayu yudha prabowo
PEMUSNAHAN BENIH IMPOR - Petugas dari Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya, Wilayah Kerja Bandara Abdulrachman Saleh membakar benih tanaman yang tidak dilengkapi dokumen di halaman kantor BBKP, Jalan Lanud Abdulrachman Saleh, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin (7/10/2019). Sebanyak 83 paket berisi aneka jenis tanaman impor dari semban negara yang tidak disertai dokumen menurut undang-undang dimusnahkan karena berpotensi menyebarkan penyakit tanaman. 

PEMUSNAHAN BENIH IMPOR - Petugas dari Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya, Wilayah Kerja Bandara Abdulrachman Saleh membakar benih tanaman yang tidak dilengkapi dokumen di halaman kantor BBKP, Jalan Lanud Abdulrachman Saleh, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin (7/10/2019).

Sebanyak 83 paket berisi aneka jenis tanaman impor dari sembilan negara yang tidak disertai dokumen menurut undang-undang dimusnahkan karena berpotensi menyebarkan penyakit tanaman.

Ribuan benih yang dikemas ke dalam 83 paket itu merupakan sitaan BBKP dari Kantor Pos Indonesia Cabang Malang selama Januari hingga Agustus 2019.

“Kami sita dari Kantor Pos setelah pemeriksaan X-ray oleh petugas Bea dan Cukai. Kemudian barang itu kami karantina,” ujar Kepala BBKP Surabaya, Musyaffak Fauzi, di Malang, Senin (7/10/2019).

Ia menambahkan, benih tersebut didominasi oleh tanaman hias, sayuran dan buah. Karena tak melampirkan dokumen keamanan, benih-benih ini diduga membawa racun yang berpotensi menular kepada tanaman lain.

“Artinya kalau dia nggak bisa melampirkan sertifikat aman dari negara asal, bisa jadi ini membawa racun. Makanya harus dimusnahkan,” ujarnya.

Menurut Musyaffak, BBKP Surabaya telah menyurati pemilik benih agar segera melengkapi sertifikat keamanan dalam tempo 14 hari. Namun hingga batas waktu habis, sertifikat tak kunjung turun sehingga harus dimusnahkan.

Musyaffak mengatakan, benih bermasalah itu paling banyak dikirim dari Malaysia dan China. Selain benih, ada pula paket kurma dari Arab Saudi.

“Paling banyak tadi dari China sama Malaysia,” katanya.

Mengancam Keanekaragaman Hayati

Musyaffak mengatakan, benih yang tidak dilengkapi sertifikat aman dari negara asal patut diduga mengandung racun. Salah satu kasus yang paling mencolok adalah penyakit sista kuning pada kentang di Wonosobo, Jawa Tengah.

“Karena ada benih yang mengandung itu, di Wonosobo akhirnya nggak bisa lagi ditanami kentang,” ucap Musyaffak.

Ia mengatakan, ada ancaman jika seseorang mengedarkan benih tanpa dilengkapi sertifikat keamanan. Aturan itu tertuang dalam Aturan ini tertuang dalam pasal 60 UU Sistem Budidaya Tanaman (SBT).

“Tapi dalam kasus ini pemilik belum mengedarkannya sehingga kami tidak bawa ke proses hukum,” tutupnya.

Penulis: Hayu Yudha Prabowo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved