Malang Raya

Perusuh Wamena Bikin Pria Lumajang Sembunyi 6 Jam Dalam Got, Dua Temannya Tewas

Pria #Lumajang Sembunyi 6 Jam Dalam Got di #Wamena, Rumahnya Dibakar, Dua Temannya Tewas

Perusuh Wamena Bikin Pria Lumajang Sembunyi 6 Jam Dalam Got, Dua Temannya Tewas
aminatus sofya
Kerusuhan di Wamena, Senin 23 September 2019, menjadi peristiwa terburuk dalam hidup Sali, pria asal Lumajang, Jawa Timur. 

SURYAMALANG.COM, PAKIS - Kerusuhan di Wamena, Senin 23 September 2019, menjadi peristiwa terburuk dalam hidup Sali, pria asal Lumajang, Jawa Timur.

Dia hampir menjadi korban kerusuhan berujung pembakaran di Wamena, Kabupaten Jawijaya, Papua.

Sali menceritakan saat itu ia baru saja selesai mengantar penumpangnya ke Jalan Pattimura, Wamena.

Selang 15 menit, dia melihat kerusuhan pecah di dekat rumahnya di Jalan SD Percobaan.

Tak berapa lama, sejumlah massa datang mengepung tempat Sali tinggal dan membakar semua rumah.

“Saya berdelapan orang. Empat orang termasuk saya lari, empat lagi terjebak di dalam. Dua orang jadi korban,” cerita Sali ketika ditemui di Malang, Rabu (9/10/2019).

Sali adalah bagian dari ratusan pengungsi yang dievakuasi ke Jawa melalui Malang.

Pagi yang Mencekam di Wamena, Pria Pamekasan Lihat Massa Sengaja Bakar Rumah Meski ada Penghuninya

Sali bisa lolos dari amukan setelah bersembunyi di saluran air penuh sampah dan lumpur. Agar tak terlihat, dia tutup lubang saluran menggunakan semak dan ilalang.

“Hanya sedikit saya kasih sisa lubang. Buat nafas dan melihat keluar sesekali,” katanya.

Hampir enam jam bapak dua anak itu berdiam di dalam got. Selama itu, ia menangis dan merapal doa agar Tuhan memberinya kesempatan hidup.

“Saya berdoa supaya Tuhan kasih saya kesempatan ketemu anak dan istri di rumah. Soal harta benda, sudah saya ikhlaskan,” tuturnya.

Ketika kerusuhan mulai tak terdengar dan api sedikit redup, Sali lari ke rumah honai milik orang asli Wamena. Di sana ia ditolong oleh mama Papua dan diberi baju ganti.

“Waktu itu baju saya kan penuh lumpur. Setelah itu baru saya ke Kodim,” ucap Sali.

Sali mengatakan ia tak ingin kembali ke Wamena meskipun saat kondisi di sana berangsur pulih. Pria 38 tahun itu memilih bekerja di kampungnya dan dekat dengan anak istri.

“Sudah ndak pingin kembali. Trauma saya. Sadis sekali waktu itu,” tutupnya.

Penulis: Aminatus Sofya
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved