Tempo Doeloe

Ken Dedes, 'Ibu Batik' Nusantara Lama, Berdasarkan Berhala Vidyadewi Prajnaparamita dari Malang

Ken Dedes yang diberhalakan sebagai Vidyadewi Prajnaparamita di Candi Putri, Desa Pagentan Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang adalah sebuah "ikon h

Ken Dedes, 'Ibu Batik' Nusantara Lama, Berdasarkan Berhala Vidyadewi Prajnaparamita dari Malang
wikipedia
Ken Dedes yang diberhalakan sebagai Vidyadewi Prajnaparamita di Candi Putri, Desa Pagentan Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang adalah sebuah "ikon historis" Malang Raya sekaligus ikonnya "Malang Batik Heritage". 

Terbayang bahwa kala itu di lingkungan dalam keraton (watek i jro) telah terdapat sejumlah warga dalam (warga I jro) keraton, yang piawi atau yang memiliki kenampuan dalam berkriya batik tulis.

Mereka itu serupa dengan "abdi dalem batik", yakni tukang ahli (undahagi), yang meski konon jumlah pekriya dan para pemakai batik tulis masih terbatas. Batik yang pada mulanya hanya sebatas busana elite di kalangan ningrat Jawa, lambat laun dikenakan pula oleh warga luar keraton, meskipun karakter khusus batik keraton tetap memiliki citra istimewa di masyarakat.

C. Resentralisasi Batik Malang

Demikianlah, Malangraya pada Masa Singhasari adalah "mula dan sekaligus sentra kriya batik tulis", dengan Ken Dedes sebagai sang "Ibu Batik"-nya. Sayang posisi "sentra batik" dari Malang itu telah sangat lama "menguap" dan digantikan posisinya oleh daerah-daerah lain di Jawa.

Kini tiba saatnya kesentraannya dikembalikan, dengan disertai upaya yang serius untuk secara bertahap dan berkelanjutan melakukan:

(1) eksplorasi unsur ornamentik batik

(2) meningkatkan kapabilitas para pekriya batiknya dalan mendesain motif hias batik, mencanthing, mewarnai, merancang, memroduksi kain serta busana batik, hingga memasarkan produk kain dan busana batiik khas Malang, dan

(3) mem-branding-nya agar lebih dikenal luas oleh warga daerah lain maupun warga negara manca.

Salah satu produk khas tersebut adalah apa yang oleh penulis diistilahi "Batik Heritage Malang", yakni kriya batik -- baik tulis, cap ataupun printing, yang unsur-unsur pembatikan (ragan hias, pewarnaan, teknik pembatikan, maupun filosofi)-nya berbasis peninggalan peradaban masa lalu yang berlimpah ruah di Malang dari lintas masa.

Unsur-unsur ragam hias pada tinggalan budaya di Malang itu demikian kaya dan beragam, yang tak habis-habisnya meski terus-menerus dieksplorasi untuk dijadikan sebagai unsur desain batik heritage khas Malang. Terlebih bila ditanbah dengan eksplorasi dari unsur ekologis yang juga kaya, beragam dan berkarakter di daerah Malang.

Jika Malangraya mampu mengembalikan dan terlebih menguatkan sentralitas perbatikannya seperti di zaman lampau itu, serta mengayakan maupun meng-unikum-kan karakter lokal batik heritage-nya, tentu "Ibu Batik" Ken Dedes bakal bergirang hati, karena, berarti upaya rintisannya dalam berolah batik tulis tidak sia-sia.

Semoga para pekriya dan pemerintah setempat tergerak untuk melaksanakan, sehingga membuahkan kebuktian (papakabhuktihi). Nuwun.

Sangkaling, 3 September 2019
Griya Ajar CITRALEKHA

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved