Kabar Magetan

Kaum Tani dari 8 Desa di Kecamatan Plaosan Klaim Hak Air di Telaga Sarangan, Magetan

Kaum Tani dari 8 Desa di Kecamatan Plaosan Klaim Hak Air di Telaga Sarangan, #Magetan. Aparat selayaknya mewaspadai potensi kerawanan ini.

doni prasetyo
Air Telaga Sarangan di Magetan sudah menyusut lebih dari setengah sehingg Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo memutuskan menutup pintu air telaga. Namun penutupan pintu air Telaga Sarangan membawa dampak, ratusan lahan sawah petani mengering, bahkan ratusan lainnya mati. 

SURYAMALANG.COM, MAGETAN - Aparat selayaknya mewaspadai potensi kerawanan di balik rebutan air antara kaum tani di delapan desa wilayah Kecamatan Plaosan versus warga sekitar Sarangan, Kecamatan Plaosan, Magetan. Pasalnya, keduanya mengklaim punya hak atas air Telaga Sarangan.

"Tanaman jagung kami semua sudah kering, mati karena kekurangan air. Padahal tanaman kami jagung, yang tidak banyak membutuhkan air layaknya padi," kata Bagyo warga Dusun Ndoro, Desa Bulugunung Kecamatan Plaosan, kepada SuryaMalang.com.

Dikatakan Bagyo, tanaman mati yang berada di wilayah Kecamatan Plaosan seluas 200 hektar, sedang yang menyusul puso (mati) ada seluas 511 hektar.

"Luas tanah persawahan yang kering dan puso itu berada di 8 desa di wilayah Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan,"jelas

Kedelapan desa itu, lanjut Bagyo, di antaranya Desa Bulugunung, Buluharjo, Sidomukti, Randugede, Nitikan, Dadi, Plaosan, Sumberagung, semua di wilayah Kecamatan Plaosan, Magetan

Dalam pertemuan kedua yang dilaksanakan di balai pertemuan kantor kecamatan, perwakilan delapan desa di Plaosan itu sudah tidak bisa ditawar.

Mereka bersikukuh akan membuka pintu air Telaga Sarangan kalau pengelola tidak mengabulkan permohonan mereka.

"Kami juga punya hak atas air Telaga Sarangan. Kalau pihak Pemkab dan pengelola air Telaga Sarangan tetep tidak mau membuka, kami sepakat akan buka sendiri," kata Bagyo, mantan PNS Dinas Perhubungan Kabupaten Magetan ini.

Petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo  Santoso menyebutkan air Telaga Sarangan sampai detik ini masih berada di atas ambang batas.

"Maka pintu air masih bisa dibuka untuk kebutuhan petani selama seminggu. Siang hari air yang kami keluarkan dari Telaga Sarangan sebanyak 200 leter/detik. Sedang malam hari kami buka sebanyak 300/detik,"pungkas Santoso. 

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved