Malang Raya

Dinas Pendidikan Jatim Minta Tiap Sekolah Kirim Rencana Kegiatan Usai Kasus Motivator Tampar Siswa

Dinas Pendidikan Jatim Minta Tiap Sekolah Kirim Rencana Kegiatan Usai Kasus Motivator Tampar 10 Siswa SMK 2 Muhammadiyah, Kota Malang

Dinas Pendidikan Jatim Minta Tiap Sekolah Kirim Rencana Kegiatan Usai Kasus Motivator Tampar Siswa
aminatus sofya
Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander, saat mengunjungi para siswa SMK 2 Muhammadiyah yang korban pemukulan motivator Agus Piranhamas, di Jalan Mulyodadi, Dau, Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Dr Suhartono MPd, Kepala Bidang Pembinaan SMK, Dinas Pendidikan Jawa Timur meminta tiap sekolah mengirim informasi kegiatan, misalnya, saat mengundang motivator.

"Minimal dinas ada tembusan acara kegiatannya. Jadi tahu track recordnya apa bisa menghadapi anak-anak SMK," jelas Suhartono dalam seminar inovasi pendidikan karakter di FIA Universitas Brawijaya (UB) Malang, Senin (21/10/2019) oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Pendidikan (Himadika).

Pernyataan itu merujuk kejadian video viral penamparan 10 siswa SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang oleh motivator Agus Piranhamas.

Menurut dia, penamparan itu tidak diperbolehkan dan harusnya ada guru pendamping di kegiatan itu. Jika melihat videonya, lanjut dia, motivator terlihat seperti sedang melampiaskan emosinya.

"Kalau itu guru, tidak akan seperti itu," katanya. Sebab guru dibekali ilmu pedagogik. Jika ada punishment, harusnya tidak seperti itu.

Saat awal mendapat video itu, ia sempat berpikir jika yang melakukan guru. Ternyata motivator dari luar yang diundang sekolah.

"Saya juga sempat ditanya Pak Wagub," jelas Suhartono. Kejadian penamparan pada Kamis pagi (17/10/2019) di aula sekolah. Pada malam hari beredar video viral penamparan itu dengan alasan motivator emosi karena para siswa menertawakan tulisan goblog, bukan goblok.

Luka dan Trauma Para Pelajar Kota Malang yang jadi Korban Penamparan Motivator Agus Piranhamas

Polisi sudah menangkar Agus Setiyawan, motivator internet marketing, pada Jumat (18/10/2019) di Surabaya.

Menurut Suhartono, dalam pendidikan ada punishment dan reward. Tapi untuk memberikan punishment pada siswa saat ini akan menjadi masalah besar sehingga hak preogratif guru dibatasi.

Dalam proses pembelajaran ada tiga hal yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Tapi sekarang, jika kognitif sudah bagus, guru tidak berani menegur siswanya jika salah. Padahal menegur adalah bagian dari mendidik.

"Jika tidak dilakukan, maka ia tidak tahu mana yang salah," katanya. Sebab seorang guru bukan hanya memberi ilmu pengetahuan saja, tapi juga mendidik. "Mungkin beda dengan bimbel. Hanya transfer ilmu pengetahuan," tambahnya.

Sedangkan Dr Ainul Hayat MSi, pakar Administrasi Pendidikan UB, menyatakan, budi pekerti harus dominan dalam kehidupan kita.

Karena kadang ada yang dulunya peringkat satu atau IP 4.0 tapi tidak jadi apa-apa karena perilakunya tidak bermanfaat karena pendidikan karakternya kurang.

Pesannya, apapun profesi kita, maka niatkan sebagai ibadah. Maka itu akan muncul sebagai adab/karakter kita pada siswa/mahasiswa. Jika adab baik dilakukan, maka seorang guru atau dosen akan selalu diingat sepanjang masa.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved