Selebrita
Ingat Kevin Finalis Indonesian Idol? Lama Vakum Ternyata Ia Derita Sakit Mental yang Mengkhawatirkan
Ingat Kevin finalis Indonesian Idol? lama vakum ternyata ia menderita sakit mental yang mengkhawatirkan.
Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM - Ingat Kevin finalis Indonesian Idol 2018? ternyata Ia kini sedang berjuang melawan penyakitnya.
Penyakit yang diderita Abraham Kevin itu adalah psikosomatis, sebuah penyakit mental yang mengganggu fisik.
Akibat penyakit psikosomatis ini, Kevin mengalami beberapa gangguan fisik seperti pusing, deg-degan, dan mata blur.
Hal ini seperti yang diungkapkan Kevin ketika hadir dalam program Q&A Metro TV, Minggu (27/10/2019).
“Kadang aku merasa deg-degan, kadang mataku blur, padahal kalau di cek ke dokter nggak ada masalah apa-apa,” jelas Kevin.

“Lalu kaki-kaki lemas, kadang kaki nggak bisa digerakin, takutnya saraf motoriknya terganggu, padahal kalau di cek ke ahli saraf itu nggak ada sakit apa-apa,” tambah Kevin dikutip dari YouTube Q&A METRO TV.
Kevin mengatakan, ia pernah bolak-balik ke rumah sakit sebanyak 10 kali dalam sebulan untuk mengecek kondisinya.
"Satu bulan bisa sampai 10 kali (masuk RS) mungkin ya karena aku masih muda aku enggak ada pengetahuan tetntang ilmu medis," ucapnya.
Saat itu, ketika ada serangan panik, ia merasa seperti tercekik dan pandangan matanya buram.
"Kadang aku menghadapi deg-degan aku kira itu ada yang salah dengan jantungku. Takut serangan jantung," jelas Kevin.
Ternyata setelah dicek, tidak ada yang salah dengan organ-organ tubuh Kevin.
Hal ini kerap membuat Kevin dan keluarganya bingung.
Bahkan keluarga sempat tak percaya bahwa Kevin mengalami kesakitan pada fisiknya secara tiba-tiba.
Sampai akhirnya, Kevin didiagnosis psikosomatis.
Kevin pun diberi obat untuk mengontrol gejala yang dirasakannya.
Kevin kini terbuka berbicara kepada publik karena ingin menghilangkan stigma buruk di masyarakat mengenai penyakit mental.
Lalu apa itu psikosomatis?
Dikutip dari Britannica, gangguan psikosomatis adalah suatu kondisi ketika tekanan psikologis memengaruhi fungsi fisiologis secara negatif sehingga menimbulkan tekanan.
Kondisi tersebut menyebabkan disfungsi atau kerusakan struktural pada organ tubuh melalui aktivasi yang tidak tepat dari sistem saraf involunter dan kelenjar sekresi internal.
Dengan demikian, gejala psikosomatis muncul sebagai penyerta fisiologis dari keadaan emosional.
Dalam keadaan marah, misalnya, tekanan darah, denyut nadi, serta laju pernapasan orang yang marah cenderung meningkat.
Ketika kemarahan mereda, proses fisiologis yang meningkat tersebut biasanya ikut mereda.

Namun, jika seseorang memiliki rasa marah yang berkesinambungan (kemarahan kronis) dan tidak diungkapkan secara terbuka, maka keadaan emosi pun tetap tidak akan berubah.
Tak hanya itu, gejala fisiologis yang muncul saat marah juga akan tetap muncul, meski tidak diekspresikan secara terbuka.
Gangguan psikosomatik dapat memengaruhi hampir seluruh bagian tubuh.
Sebuah riset yang dilakukan oleh psikiater Franz Alexander dan rekan-rekannya di Chicago Institute of Psychoanalysis pada tahun 1950-an dan 1960-an menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian spesifik dan konflik spesifik dapat menyebabkan penyakit psikosomatik tertentu.
Meski demikian, banyak yang meyakini bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh kerentanan individu.
Gangguan psikosomatis juga disebut dengan gangguan psikofisiologis.
Dikutip dari News Medical, gangguan psikosomatis memiliki tiga kategori umum.
1. Gejala yang Rumit
Pertama, seseorang dengan penyakit mental dan fisik dengan gejala yang rumit.
2. Timbul karena Penyakit yang Diderita
Kategori kedua, melibatkan seseorang yang mengalami masalah mental karena kondisi medis dan perawatannya.
Sebagai contoh, seorang pasien merasa tertekan karena mereka menderita kanker dan sedang menjalani perawatan.
3. Gangguan Mental yang Mempengaruhi Fisik
Kategori ketiga disebut gangguan somatoform.
Somatoform adalah kondisi ketika seseorang dengan penyakit mental mengalami satu atau lebih gejala fisik, bahkan jika ia tidak memiliki kondisi medis terkait.
Ada beberapa klasifikasi terkait penyakit somatoform:
A. Hipokondriasis.
Kondisi ketika seseorang meyakini gejala fisik minor sebagai penyakit serius. Misalnya, menyimpulkan masalah perut kembung menjadi kanker usus besar.
B. Gangguan Konversi.
Ketika seseorang yang tidak memiliki penyakit medis mengalami gejala neurologis seperti kejang yang memiliki efek pada gerakan dan indera.
C. Gangguan Somatisasi.
kondisi ketika seseorang merasa sering sakit kepala dan mengalami diare, yang tidak ada hubungannya dengan kondisi medis serius.
D. Gangguan Dysmorphic Tubuh
Kondisi ketika seseorang menjadi stres tentang penampilan tubuh mereka seperti keriput dan obesitas.
E. Gangguan Rasa Sakit
ketika seseorang merasakan sakit parah pada bagian tubuh mana pun dan dapat berlangsung hingga satu tahun tanpa sebab fisik apa pun, Misalnya migrain, sakit kepala, sakit punggung, dan lain-lain.
Bagaimana Melawan Psikosomatis?
Mengutip Kompas.com artikel 'Bagaimana Melawan" Psikosomatik?', pasien dengan gangguan psikosomatik dan segala gejala fisik yang dialami umumnya sulit melawan keluhan.
Pikiran positif yang disarankan oleh banyak orang sering kali sulit diterapkan oleh pasien dan ini terkadang malah semakin membuat pasien merasa tertekan dan malah memperberat keluhannya.
Memang tidak mudah berpikir positif jika mengalami gangguan psikosomatik.
Pasien sering kali mengeluhkan orang-orang di sekitarnya bahkan keluarga yang sepertinya tidak mampu mengerti apa yang dialami pasien.

Jangankan orang awam, bahkan dokter sendiri pun banyak yang tidak memahami dan "menggampangkan" bahwa psikosomatik itu sebenarnya cukup dilawan dengan pikiran positif saja.
Lalu mengapa sulit buat pasien berpikir positif atau santai seperti yang disarankan?
Otak Pabrik Utama
Otak adalah pabrik dari segala macam bentuk perasaan, pikiran dan perilaku manusia.
Apa yang kita rasakan, kita lakukan dan kita pikirkan adalah hasil dari produksi otak.
Keseimbangan dalam sistem otak ini perlu dijaga agar semuanya tetap dalam kondisi seimbang.
Lalu bagaimana jadinya jika otak ini mengalami ketidakseimbangan? Maka bisa dipastikan produksinya pun kurang baik.
Tidak heran jika gangguan jiwa yang merupakan hasil dari ketidakseimbangan otak akan membuat pikiran, perilaku dan perasaan orang menjadi tidak nyaman, mengarah tidak normal bahkan berbeda dari pada umumnya.
Kondisi ini yang membuat respon otak yang baik tidak tercapai.
Bagaimana caranya membuat suatu "pikiran positif" jika otak yang memproduksi pikiran itu sedang dalam kondisi tidak baik?
Tidak heran banyak pasien yang mengatakan ketika dia sedang mengalami kecemasan dan depresi, dia mengalami kesulitan untuk berdialog dengan Tuhan lewat doa dan sembahyang.
Ada perasaan tidak nyaman yang dialami oleh pasien sehingga membuat dirinya tidak bisa "masuk" dalam kekhusukan dan doa.
Obati Otaknya
Maka jalan yang ditempuh untuk memperbaiki ketidakseimbangan yang menyebabkan gangguan psikosomatik adalah memperbaiki sistem otak yang terlibat.
Berbagai cara bisa dilakukan baik dari segi pemakaian obat psikofarmaka dan psikoterapi.
Pemakaian obat diperlukan untuk memperbaiki sistem otak yang sudah mengalami kendala dalam pekerjaannya.
Fungsi dari obat adalah untuk memperbaiki dan menyeimbangkan sistem di otak tersebut
Setelah otak mulai seimbang maka terapi kognitif yang biasanya dilakukan pada proses psikoterapi dapat lebih mendapatkan tempat dalam alam pikiran dan perasaan pasien.
Banyak pasien yang bersikeras untuk tidak makan obat. Ada juga beberapa dokter yang tidak menyarankan penggunaan obat.
Ketergantungan adalah salah satu yang ditakuti. Sebenarnya obat digunakan kepada pasien adalah untuk membuat tercapainya keseimbangan itu.
Proses pemberian obat memfasilitasi perbaikan sehingga ketika sudah baik yang ditandai dengan gejala subyektif pasien yang merasakannya, maka obat bisa dikurangi bahkan dihentikan.
Terapi jenis lain yang sering disarankan adalah meditasi (mindfulness therapy).
Hal ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan dan berkonsentrasi pada jalan masuk keluar nafas.
Terapi kombinasi antara obat dan psikoterapi termasuk meditasi adalah suatu cara yang mampu "melawan" psikosomatik.