Universitas Negeri Malang

Asisten Dosen UM ini Ternyata juga Guru Pantomim, Belajar sejak 1979 saat Musim Break Dance

"Saya suka pantomim sejak 1979. Saat itu musim break dance. Tapi saya menekuni pantomim," kata asisten dosen di UM ini.

Asisten Dosen UM ini Ternyata juga Guru Pantomim, Belajar sejak 1979 saat Musim Break Dance
sylvianita widyawati
Agung Supriyanto (47), asisten dosen di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan (HKn) di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Agung Supriyanto (47) adalah asisten dosen di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan (HKn) di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM).

Di Kota Malang ia dikenal sebagai dedengkot pantomim dan kerap jadi juri lomba. "Saya suka pantomim sejak 1979. Saat itu musim break dance. Tapi saya menekuni pantomim," jelas Agung kepada Suryamalang.com, Rabu (13/11/2019).

Tak ada yang mengajak dan melatihnya. "Dulu kan gak ada youtube. Kalau sekarang enak. Ada youtube yang bisa membantu belajar," jawab Agung yang pada April 2020 akan meneruskan S3 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini.

Maka lomba pantomim diikuti mulai kelas di kampung dst. Saat ini sudah ada 500 lebih anak didiknya dengan jenjang pendidikan mulai TK sampai mahasiswa. "Kalau untuk sanggar pantomim baru dua tahun terakhir ini," jawabnya.

Pengalaman 14 tahun menjadi juri Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Kota Malang untuk pantomim, ia melihat pantomim yang dimulai sejak seleksi gugus, kecamatan tingkat kota, anak-anak kurang gregetnya dalam memainkan ekspresi wajahnya. Hal ini juga karena pembimbingnya/guru hanya menyontek dari youtube atau media sosial. Padahal pantomim adalah sebuah sandiwara bisu dengan mengandalkan ekspresi wajah, gerak kaki, tangan, tubuh.

Tapi pada anak-anak yang ikut lomba biasanya hanya dirias dan diberi baju lucu. "Pantomim bukan badut. Boleh dirias seperti itu asal ceritanya mendukung," papar Agung. Sehingga guru tidak bisa asal-asalan merias wajah anak. Dikatakan, guru pantomim yang ulung adalah cermin. Dari benda itu, bisa belajar beragam ekspresi. Bisa sedih, senang, marah dll.

"Otot wajah akan terlatih. Apalagi jika diberi make up. Hal-hal dasar itu harus dikuasai dulu," paparnya. Karena itu jarang siswa yang dikirim ke lomba tingkat nasional selalu kalah dengan siswa dari Jateng dan Jabar. Karena berobsesi melestarikan pantomim, pada 2020, ia ingin membuat worksho utamanya buat guru Seni Budaya dan Keterampilan. Tujuannya agar diimbaskan ke siswanya dengan contoh yang benar dari gurunya. Dan guru memiliki jam terbang.

Ia yakin banyak potensi anak muda di Kota Malang untuk diasah kemampuannya di pantomim. Sebab setiap tahun selalu ada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Kota Malang dimulai dari seleksi gugus. Dengan menjadi juri di lomba itu selama 14 tahun, maka diketahui banyak potensinya untuk melestarikan pantomim di Kota Malang. Agung sudah melatih pantomim sejak 1989 ini. "Sudah 40 tahun ternyata," jawabnya.

Bagaimana mengatur waktunya antara bidang akademis dan passionnya? "Saya mencoba mengelola empat hal. Olah rasa (berkesenian dengan pantomim), olah pikir sebagai akademisi, olah hati dengan ibadah dan berolahraga dengan bermain bulutangkis. Yang diajarkan pada anak didiknya adalah totalitas sehingga saat bermain, maka penonton bisa merasakan ada auranya.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved