Breaking News:

Kota Batu

Setelah Badai Berlalu, Hawa Panas Datang, Kaum Tani Kota Batu Menjerit

Buah apel itu normalnya memiliki produksi yang baik pada suhu 16 sampai 17 derajat Celcius namun suhu saat ini sangat panas.

benni indo
Perkebunan buah-buahan di Kota Batu 

SURYAMALANG.COM, BATU – Petani apel di Kota Batu harus menghadapi tantangan suhu panas yang terjadi belakangan ini. Sekalipun sudah masuk dalam prakiraan musim penghujan di November ini, namun suhu panas masih terjadi hampir setiap hari.

Kondisi suhu yang tinggi itu dikeluhkan kaum tani karena berpengaruh pada kondisi apel.

Samuji, seorang petani apel mengatakan, idealnya tumbuhan apel berada di suhu 17 derajat Celcius. Namun, saat ini suhu di Kota Batu jauh lebih tinggi dari 17 derajat Celcius.

"Buah apel itu normalnya memiliki produksi yang baik pada suhu 16 sampai 17 derajat Celcius namun suhu saat ini sangat panas. Buah kami banyak yang rusak," ungkap Samuji, Rabu (13/11/2019).

Petani asal Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji itu juga mengatakan produksi apel menurun akibat suhu yang panas. Untuk satu hektar lahan, biasanya bisa memanen sekitar 30 ton apel. Namun untuk saat ini panen apel hanya sebanyak 25 ton saja.

Akademisi di bidang pertanian dari Universitas Brawijaya, Budi Waluyo menjelaskan, bahwa suhu bisa mempengaruhi produksi apel di Kota Batu. Menurutnya, apel merupakan salah satu tanaman yang sangat rentan dengan suhu yang ekstrem.

“Karena suhu saat ini kalau siang terjadi peningkatan panas yang luar biasa. Sementara saat malam, suhu dingin juga mengalami peningkatan yang hebat. Jadi, tanaman ini tidak bisa bertahan lama,” paparnya.

Ia juga berharap kedepannya Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bisa mengantisipasi fenomena perubahan iklim tersebut karena metode bertani di Kota Batu sudah seharusnya diubah sehingga inovasi budidaya pertanian sangat diperlukan.

Sebelumnya, peristiwa angin kencang juga telah membuat para petani apel di Kota Batu merugi. Banyak petani apel di Desa Tulungrejo mengalami kerugian akibat bencana alam angin kencang.

Buah apel yang belum panen rontok setelah diterjang angin kencang. Petani memunguti buah apel yang jatuh berserakan di tanah.

Sutrisno Paidi, petani apel di Desa Tulungrejo menceritakan dirinya mengalami kerugian yang tidak kecil akibat bencana alam angin kencang.

Sutrisno memiliki lahan apel seluas 2 hektar. Semua tanaman apel di lahannya rontok. Termasuk lahan apel yang berada di sekitarnya.

“Hampir menyeluruh. Pokoknya buah kecil jatuh, yang tua juga jatuh. Terus yang masih bunga juga rusak, kami menyebutnya gosong,” paparnya.

Sutrisno telah mengumpulkan satu ton apel dan ditaruh di depan rumahnya. Namun begitu, tengkulak tidak mau membeli apel yang ia kumpulkan karena rasanya belum manis. Dalam keadaan normal, lahannya bisa panen 5 ton per 2500 meter persegi.

“Yang tidak bisa dikumpulkan sekitar empat ton per satu petani. Tetangga kebun juga banyak yang belum diambil,” keluhnya.

Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved