Malang Raya
Telur Ayam Di Jatim Aman, Peserta Sarasehan Makan Telur Bersama
Sarasehan "Menanggapi Isu Pencemaran Dioxine Pada Telur Ayam" diadakan di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Sarasehan "Menanggapi Isu Pencemaran Dioxine Pada Telur Ayam" diadakan di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Minggu (24/11/2019).
Acara diakhiri dengan makan telur ayam bersama yang dibawakan oleh Dinas Peternakan Jawa Timur. Ini sebagai bentuk telur ayam di Jatim aman dikonsumsi.
Peserta sarasehan, Dr drh Iswayudi MP dari Dinas Peternakan Jawa Timur menyatakan Pemprov Jatim tidak pernah menyangkal penelitian linkungan yang dilakukan IPEN.
Sebab di jurnal aslinya membahas tentang dampak pembakaran sampah plastik pada lingkungan.
Salah satu cara melihat bagaimana lingkungan itu tercemar atau tidak dengan melihat pada telur ayam. Jika telurnya tercemar, maka induknya terpapar.
“IPEN hanya memotret keadaan disana,” kata dia.
Yang jadi penelitian itu adalah ayam kampung berkeliaran. Dari dinas peternakan juga langsung bergerak.
Termasuk ke peternakan rakyat untuk memastikan tidak tercemar dioxine. Produksi telur ayam Jatim mencapai 8,2 miliar butir. Dan sebanyak 96 persen dari ayam ras.
Sisanya non ras. Sedang dari telur ayam kampung yang diliarkan sangat kecil. Dengan adanya hal ini, maka ia mengajak semua stake holder berbagi peran.
“Dari Disnak Jatim akan fokus menyuarakan telur ayam Jatim aman karena dihasilkan dari good framing practise.”
“Untuk itu, peternak juga harus melakukan good framing practise. Sehingga apa yang disampaikan disnak sama dengan kondisi di lapangan,” papar dia.
Sedang dari perguruan tinggi mungkin bisa melakukan riset tentang dioxine. Tapi bukan lagi di dua lokasi yang sudah jadi viral. Misalkan soal abang batas.
Karena diyakini pasti tidak semua telur ayam nol persen dioxine.
Sedang Kholiq, peternak telur dari Desa Kambingan, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang menyatakan adanya isu dioxine sempat membuat harga telur ayam turun 1-2 hari.
“Tapi cuma turun Rp 1000 kok. Dari Rp 19.500 menjadi Rp 18.500 per kg. Sekarang sudah naik lagi. Di tingkat peternak sudah mencapai Rp 20.000 per kg,” papar Ketua Paguyupan Telur "Intan" Malang ini.
Harga telur kini memang naik lagi karena permintaan meningkat. Ini membuktikan bahwa konsumen tidak khawatir mengonsumsi telur.
“Selain itu, menjelang Desember kan banyak kegiatan keagamaan, seperti Natal,” kata dia.
Ia mengambil sisi positif dari isu dioxine itu. Yaitu sampah plastik sebagai ancaman. Sehingga harus dikurangi penggunaan plastik.
“Dari isu ini, peternak telur ayam makin kompak,” kata Kholiq.
Namun ia sempat menyatakan kekhawatiran jika isu seperti itu ada politisnya. Misalkan memburukkan kondisi peternakan rakyat.
Dan akhirnya integrator yang masuk karena melihat peternakan rakyat lemah.
Sedang Dekan Peternakan UB, Prof Dr Sc Agr Ir Suyadi MS IPU menyatakan ada sistem bisnis yang rentan saat isu-isu tak menguntungkan bergulir pada perunggasan dan telur.
Sebab peternakan ini begitu pentingnya untuk perekonomian Indonesia.
Dikatakan dia, dioxine adalah sebuah bentuk dari polimer pendek dari pembakaran plastik.
Sehingga yang tercemar adalah yang dekat dengan sumber. Namun jika pakan, konsumsi air minum, udara yang dihirup dan yang diinjeksi dalam bentuk obat-obatan aman, maka dipastikan hasil/produknya aman. Apalagi untuk peternakan rakyat tidak berkeliaran di sekitar sampah.
Sedang Yudha Satya Wardhana, Sekdin Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar menyatakan sudah membuat konter isu dioxine dengan kegiatan mengonsumsi telur ayam.
“Karena peternak dalam membudidayakan ternaknya sudah memiliki standar. Dioxine di Blitar tidak ada karena tidak ada industri disana yang memakai sampah plastik,” kata Yudha di acara itu.
Langkah konter harus dilakukan cepat karena tidak ingin harga telur ayam turun dibawah biaya produksi. Sekarang ini trend harganya sudah bagus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/makan-telur-bersama-usai-sarasehan-isu-dioxine-pada-telur-ayam-di-universitas-brawijaya-malang.jpg)